Mentari sore mulai berarak,
hanyut mengalir sebait senyuman,
akankah menjadi taqdir akhir renungan.
Hawa yang ku-impikan sribu malam,
bahkan ke-agungan sang rembulan,
lalu mengapa dihinakan oleh kesenangan.
Dalam sekejab dadaku meronta,
dalam berontak ditikamnya jantungku,
telah sadar roboh harga diriku,
kini ku tau asaku tak gugu padamu.
Kemudian aku terlelap dalam gelap mendekap,
suaramu bergaung suram dalam kelam,
mungkinkah ini do’amu?.
Entahlah,,,
kembali aku ingin mendengarnya,
rinduku senakin menyiksa,
kejam setajam sembilu.
Setengah mati ingin kusingkirkan haru,
terlalu muak dengan air mataku,
mungkin harus kubunuh saja segala harapanku yang semu.
Terlalu lama kutunggu,
pedih yang sulit terobati tak jua berlalu,
tapi sebisa mungkin kau tak perlu tahu,
karena aku juga enggan menyiksamu,
dengan rasa bersalah yang tak perlu.
Masih berdo’a kau sahabatku,
terimakasih karena aku masih membutuhkanmu,
hanya demi kau rela kupalsukan tawa,
atas nama cinta yang tak boleh cemar,
atas persahabatan yang jangan sampai bubar.
Semoga do’amu terkabul sepenuhnya,
mengingat aku masih butuh percaya,
cinta akan se-adil Sang Pencipta,
bukan lelucon kejam belaka,
pengundang iblis tuk selalu tertawa,
menghina semua luka.
Kepulauan Bisu, 14 Februari 2011
Read more
hanyut mengalir sebait senyuman,
akankah menjadi taqdir akhir renungan.
Hawa yang ku-impikan sribu malam,
bahkan ke-agungan sang rembulan,
lalu mengapa dihinakan oleh kesenangan.
Dalam sekejab dadaku meronta,
dalam berontak ditikamnya jantungku,
telah sadar roboh harga diriku,
kini ku tau asaku tak gugu padamu.
Kemudian aku terlelap dalam gelap mendekap,
suaramu bergaung suram dalam kelam,
mungkinkah ini do’amu?.
Entahlah,,,
kembali aku ingin mendengarnya,
rinduku senakin menyiksa,
kejam setajam sembilu.
Setengah mati ingin kusingkirkan haru,
terlalu muak dengan air mataku,
mungkin harus kubunuh saja segala harapanku yang semu.
Terlalu lama kutunggu,
pedih yang sulit terobati tak jua berlalu,
tapi sebisa mungkin kau tak perlu tahu,
karena aku juga enggan menyiksamu,
dengan rasa bersalah yang tak perlu.
Masih berdo’a kau sahabatku,
terimakasih karena aku masih membutuhkanmu,
hanya demi kau rela kupalsukan tawa,
atas nama cinta yang tak boleh cemar,
atas persahabatan yang jangan sampai bubar.
Semoga do’amu terkabul sepenuhnya,
mengingat aku masih butuh percaya,
cinta akan se-adil Sang Pencipta,
bukan lelucon kejam belaka,
pengundang iblis tuk selalu tertawa,
menghina semua luka.
Kepulauan Bisu, 14 Februari 2011
Sepenggal Taqdir
Pemimpin Ideal
Radikalisme Islam
Kajian Kemahasiswaan
Untuk Indonesiaku 


