Selamat Datang di http://ghanie-np.blogspot.com Dan Selamat Menikmati Sepenggal Taqdir Dari Anak Kepulauan Ini
Mohon ma'af sebelumnya, sudah lama tidak saya Update, karena masih banyak kesibukan yang harus saya selesaikan.
Sekedar Kata Pengantar :
Kureguk kopi sambil menyelesaikan satu puisi. Kamu di sisiku, menjadi kitab refrensiku. Kubuka halaman hatimu, tak kutemukan kata pengganti yang lebih indah untuk kutulis. Selamat Menikmati...

BIOGRAFI DAN PEMIKIRAN IBNU BAJJAH DAN IBNU TUFFAL DALAM FILSAFAT


A. IBN BAJJAH
1. Biografi
Nama lengkapnya adalah Abu Bakar ibn Yahya ibn al sha’ighal tujibi al andulsi al samqusti ibn Bajjah. Ibn bajjah dilahirkan di Saragossa, andalus pada tahun 475 H (1082 M). Ia berasal dari keluarga at-tujib karena itu beliau dikenal sebagai al-tujubi yang bekerja sebagai pedagang emas (Bajjah : Emas).
Selain sebagai filusuf, ibn bajjah dikenal sebagai penyair, komponis, bahkan sewaktu Saragossa berada di bawah kekuasaan abu baker ibn ibrahim al-shahrawi dari daulah bani murabittun ibn bajjah dipercayakan sebagai Wazir . Pada 1118 M/512 H, Saragossa telah ditakluk oleh raja Alfonso yang berasal dari Aragon dan Ibnu Bajjah berhijrah ke Seville, selatan Sepanyol. Di sana, beliau menjalankan tugas sebagai seorang doktor dan banyak menulis tentang ilmu logik.
Kemudian Ibnu Bajjah berpindah pula ke Granada, dan seterusnya ke Afrika Utara iaitu pusat Dinasti Murabithun. Tetapi cara pemikiran dan falsafahnya yang asing di kalangan masyarakat di situ menyebabkan beliau ditangkap apabila tiba di kota Syatibah, Maghribi oleh Amir Abu Ishak Ibrahim Ibn Yusuf Ibn Tasifin yang menuduhnya sebagai murtad dan pembawa bidaah. Oleh kerana Ibnu Rusyd pernah menjadi muridnya, maka Ibnu Bajjah dilepaskan
Ekoran kejadian tersebut, beliau meneruskan perjalanan ke Fez di Morocco. Di sana, beliau mendapat penghormatan yang tinggi di kalangan orang al-Murabithun dan diangkat menjadi menteri oleh Abu Bakar Yahya Ibnu Yusuf Ibnu Tasifin untuk jangka waktu yang panjang.
Kedudukan yang beliau peroleh telah menimbulkan rasa iri hati daripada pelbagai pihak. Akhirnya pada bulan Ramadan 1138 M/533 H, menurut satu riwayat, beliau meninggal dunia akibat diracuni oleh seorang doktor yang bernama Abu al-‘Ala Ibnu Zuhri yang iri hati terhadap kecerdasan dan penguasaan ilmunya . Beliau dimakamkan di samping makam Ibnu ‘Arabi di Fez.
2. Karyanya
Ibnu Bajjah banyak menghasilkan karya dalam pelbagai bidang. Karya asal Ibn Bajjah ditulis dalam bahasa Arab dan diterjemahkan ke dalam bahasa Hebrew dan Latin. Manuskrip asal dan terjemahannya tersimpan di perpustakaan Bodlein, Perpustakaan Berlin dan Perpustakaan Escurial (Sepanyol).
Antara karyanya yang terpenting ialah :
a. Risalah al-Wida’ yang menceritakan tentang ketuhanan, kewujudan manusia, alam dan huraian mengenai bidang perubatan. Buku tersebut dipercayai masih tersimpan di perpustakaan Bodlein.
b. Risalah Tadbir al-Mutawahhid pula mengandungi pandangan beliau tentang bidang politik dan falsafah. Ia lebih menekankan kehidupan individu dalam masyarakat yang disebut Mutawahhid. Risalah Tadbir al-Mutawahhid ini diterjemahkan ke dalam bahasa Sepanyol setelah wafatnya Ibnu Bajjah.
c. Risalah al-Ittisal al-‘Aql Bi al-Insan mengandungi tentang perhubungan akal dengan manusia serta huraian mengenainya.
d. Kitab an-Nafs menerangkan persoalan yang berkait tentang jiwa manusia dengan Tuhan dan pencapaian manusia yang tertinggi daripada kewujudan manusia iaitu kebahagiaan. Persoalan ini banyak dipengaruhi oleh gagasan pemikiran falsafah Yunani dan Ibnu Bajjah banyak membuat ulasan terhadap karya dan hasil tulisan Aristotle, Galenos, al-Farabi dan al-Razi.
3. Filsafatnya
A. Epistimologi
Sebagai tokoh filsafat islam di dunia Barat, ibn bajjah tidak lepas dari pengaruh saudara-saudaranya (filusuf islam di dunia timur) terutama pemikiran al farabi dan ibn sina. Dalam bukunya yang terkenal Tdbir Al Mutawahhid, beliau mengemukakan teori al ittishal, yaitu bahwa manusia mampu berhubungan dan meleburkan diri dengan akal fa'al atas bantuan ilmudan pertumbuhan kekuatan insaniah .
Berkaitan dengan teori ittishal tersebut, ibn bajjah juga juga mengajukan satu bentuk Epistimologiyang berbeda dengan corak yang dikemukakan oleh Al Ghazali di Dunia Islam Timur. Kalau Al Ghazali berpendapat bahwa Ilham adalah sumber pengetahuan yang lebih penting dan lebih dipercaya, maka ibn bajjah mengkritik pendapat tersebut, dan menetapkan bahwa sesungguhnya perseorangan mampu pada puncak pengetahuan dan melebur Akal Fa'al, bila ia telahbersih dari kerendahan dan keburukan masyarakat. Oleh karenanya seseorang sebisa mungkin harus dapat mengasingkan pemikiran, dan jiwa masyarakat yang didasari atas pemenuhan hawa nafsu.
B. Metafisika
Adapun pendapat ibn bajjah mengenai Metafisika, boleh dikatakan hampir sama dengan Al Farabi. Menurut ibn bajjah bahwa segala yang maujud terbagi menjadi Dua :
Bergerak dan yang Tidak Bergerak. Yang bergerak itu adalah Materi yang sifatnya terbatas. Dan gerakan yang terbatas tidak mungkin dari zatnya sendiri. Tatapi sebab gerakan berasal dari kekuatan yang tidak terbatas (wujud) yaitu Akal. Akal memberi gerak kepada jisim.
C. Moral
Tujuan Manusia hidup di dunia ini, kata ibn bajjah, adalah untuk memperoleh kebahagiaan. Untuk itu, diperlukan usaha yang bersumber pada kemauan bebas dan pertimbangan Akal dan jauh dari nafsu Hewani. Lebih jauh ibn bajjah mengelompokkan perbuatan manusia kepada Perbuatan Hewani dan Perbuatan Manusiawi. Watak sejati manusia pada hakikatnya bersifat Intelektual, yang merupakan karakteristik semua bentuk spiritual. Dan hanya “manusia spiritual” inilah yang benar-benar dapat menenyal kebahagiaan. Ibn bajjah menyatakan bahwa kemajuan Intelektual bukanlah semata-mata atas usaha manusia, tetapi disempurnakan oleh Tuhan dengan memasukkan cahaya ke dalam Hati. Pemikiran ibn bajjah tersebut, menurut Al Hanafi nampaknya telah mempengaruhi Immanuel Kant, meskipun Knt telah menambah pemikiran-pemikiran baru yang menyebabkan ia lebih maju dari ibn bajjah .
D. Politik
Dari pengertian Mutawahhid, kadang-kadang orang mengira bahwa ibn bajjah menginginkan seseorang menjauhkan diri dari masyarakat. Tetapi sebenarnya ibn bajjah bermaksud bahwa seorang mutawahhid harus senantiasa berhubungan dengan masyarakat. Maksudnya, hendaklah seseorang mampu menguasai diri dan sanggup mengendalikan hawa nafsu, tidak terseret ke dalam arus perbuatan rendah masyarakat. Dengan kata lain, ia harus berpusat pada dirinya dan merasa selalu bahwa dirinya menjadi contoh ikutan orang, bukan malah tenggelam di dalam arus masyarakat . Tetapi jika masyarakat tidak baik maka seseorang harus menyepi dan menyendiri . Ibn bajjah menyadari bahwa warga memiliki sikap dan bertindak mulia jumlahnya tidaklah banyak. Menurut ibn bajjah orang yang menpunyai sikap mulia ciri-cirinya ialah :
1. Selalu menjaga kesehatan. Untuk itu mereka memerlukan sedikit pengetahuan tentang kesehatan agar dapat merawat diri.
2. Sederhana dalam memenuhi kebutuhan hidup yang menyangkut sandang, pangan, dan tempat tinggal, karena kebutuhan yang demikian bukan tujuan utama bagi kehidupan.
3. Bergaul dengan orang yang berilmudan menjauhi orang-orang yang mementingkan kehidupan duniawi.
IBN THUFFAIL
1. Biografinya
Ibnu Thuffail mempunai nama asli yang bernama Abu Bakr Muhammad bin Abdul Malik bin Muhammad bin Muhammad bin Tufail, Beliau lahir pada dekade pertama abad ke-6 H/ke-12 M di Guadix, propinsi Granada, ia termasuk keluarga dari suku Arab Qais. Setelah beranjak dewasa, Ibnu Tufail berguru kepada Ibnu Bajjah (1100-1138 M), seorang ilmuwan besar yang memiliki banyak keahlian. Berkat bimbingan sang guru yang multitalenta itu, Ibnu Tufail pun menjelma menjadi seorang ilmuwan besar.Pada mulanya ia adalah seorang yang ahli dalam bidang kedokteran, dan menjadi terkenal dibidangnya itu.
Keahlianya dalam bidangnya telah dipraktekkanya di Granada.Kemudian ketenarnya sebagai dokter itu membawa namanya lebih dikenal di dalam pemerintahan, sehinggan dia diambil oleh gubernur Granada menjadi sekretarisnya.Pada tahun 549 H ia dipindahkan menjadi sekretaris pribadi gubernur Ceuta. Keharuman namanya kian semerbak sehingga ia diangkat oleh Abu Ya’qub Yusuf Al-Manshur khalifah daulah Muwahhidin menjadi dokter pribadi merangkap sebagai wazirnya. Dan beliau juga meminta kepada Ibnu Thufail untuk menguraikan buku-bukunya Aristoteles.Untuk memenuhi permintaan tersebut, Ibnu Thuffail menghadapkan Abd Walid Ibn Rusyd kepada khalifah dan mencalonkan untuk pekerjaan tersebut. Al-Walid diterima dengan baik oleh khalifah dan menunaikan pekerjaanya dengan baik .
Selain dikenal sebagai dokter dan filsuf besar, Ibnu Tufail menguasai ilmu hukum dan ilmu pendidikan. Ibnu Tufail pun dicatat dalam sejarah peradaban Islam sebagai seorang penulis, novelis, dan ahli agama.Ibnu Thufail sebenarnya memmpunyai banyak karya, baik dalam bidang filsafat maupun yang lain(fisika dan sastra).Dari sejumlah karyanya yang dinisbatkan kepadanya, diantaranya adalah Risalah fi Asrar al-hikmah al-Masyriqiyah (Hayy ibn Yaqzhan)Rasa’il fi an-Nafs, Biqa’ al-Maskunah wa Al-Ghair al-Maskunah.Selain itu, dia juga memiliki beberapa buku tentang kedokteran, serta risalah yang berisi sekumpulan surat-menyurat yang ia lakukan dengan ibn Rusyddalam berbagai persoalan filsafat.Ibn Rusyd menyatakan bahwa ibn Thufail mempunyai teori-teori yang cemerlang dalam lmu falak.Akan tetapi, semua karya beliau tidak ada yang tersisa, kecuali risalah Hayy ibn Yaqzhan.
Ibnu Tufail juga termasyhur sebagai seorang politikus ulung. Kariernya di bidang politik dan pemerintahan juga terbilang sangat baik. Ia sempat ditahbiskan sebagai pejabat di pengadilan Spanyol Islam. Tak cuma itu, Ibnu Tufail pun dipercaya Sultan Dinasti Muwahiddun menduduki jabatan menteri hingga menjadi gubernur untuk wilayah Sabtah dan Tonjah di Magribi dan sekretaris penguasa Granada.
Ketika usia beliau sudah lanjut, ia meminta berhenti dari jabatanya yang diajukan untuk menduduki jabatan tersebut.Meskipun ibnu Thuffail sudah bebas dari jabatanya, namun penghargaan Abu Ya’kub masih seperti dulu, malahan setelah khalifah Abu Ya’kub meninggal dan diganti dengan oleh putranya Abu Yusuf Al-Mansyur penghargaan itu masih tetap diterima oleh ibnu Thuffail.Ketika ibnu Tuffail meninggal dunia di Maroko pada tahun 581 H(1185 M)Abu Yusuf pun ikut menghadiri pemakaman jenazahnya.
2. Filsafatnya
Inti dari pemikiran ibn tuffail termuat dalm karyanya Hayy Ibn Yaqzhan. Antara akal dan wahyu tidaklah memiliki kontradiksi yang begitu besar. Bahkan keduanya dapat memiliki satu visi dan tujuan yang sama tentang kebenaran. Dan juga akan memiliki titik keindahan bila keduanya dapat digabungkan. Bahwa jalan yang ditunjukkan oleh agama dapat diperoleh dengan intelektualitas manusia, yang cenderung berhasrat untuk terus bertanya dan mencoba menjawab apa yang ada, dan juga oleh wahyu yang dapat dijadikan petunjuk tetap menuju satu kebenaran. Keduanya sama-sama dapat menuju kebenaran, demikian pesan yang ingin disampaikan Ibn Thufail pada kita dalam karya monumentalnya, Hayy Ibn Yaqdzan.
Dalam karyanya ini, Ibn Thufail seperti merasa jengah dengan pertikaian dua proyektor besar dalam proses pencarian kebenaran, filsafat dan wahyu. Pertikaian yang diledakkan oleh al-Ghazali dengan Tahafut al-Falasifah-nya, menentang Ibn Sina dan al-Farabi dengan ajaran Aristotelian mereka. Pertikaian yang pada dasarnya ada pada ketidaksetujuan al-Ghazali yang fokus pada tiga ajaran para filososf, terutama Ibn Sina dan al-Farabi, tentang keabadian alam, penolakan bangkitnya jasmani setelah mati, dan pengetahuan Tuhan yang universal. Ketiga hal yang benar-benar dianggap oleh al-Ghazali sebagai penyalahgunaan rasio untuk menyelewengkan agama.
Pertikaian ini coba didamaikan Ibn Thufail dengan mengatakan bahwa antara keduanya tidaklah jauh berbeda dalam memandang kebenaran yang sama, eksternal dan internal. Pemahaman agama melalui wahyu dan pemahaman agama melalui penalaran, melihat kebenaran dari sisi yang berbeda dengan hakikat yang sama.
1.Dunia
Apakah dunia itu kekal, atau diciptakan dari ketiadaan tas kehendak-Nya?Inilah salah satu masalah penting yang palig menetang dalam filosofis muslim Ibnu Tufail sejalan dengan kemahiran dialektisnya menghadapi masalah itu dengan tepat. Dia tidak menganut slah satu doktrin saingannya, dan dia juga tidak berusaha mendamaikan mereka. Dilain pihak dia mengecam dengan pedas pengikut Aristoteles dan sikap-sikap teologis. Kekekalan dunia melibatkan konsep eksistensi tak terbatas. Eksistensi semacam itu tidak dapat lepas dari kejadian-kejadian yang diciptakan dan tidak mungkin ada sebelum kejadian-kejadian yang tercipta itu pasti tercipta secara lambat laun. Menurut Al-Ghazali, ia mengemukakan bahwa gagasan mengenai kemaujudan sebelum ketidak maujudan tidak dapat difahami tanpa anggapan bahwa waktu itu telah ada sebelum dunia ada, akan tetapi waktu itu sendiri merupakan suatu kejadian tak terpisahkan dari dunia, dan karena itu kemaujudannya mendahului kemaujudan dunia. Segala yang tercipta pasti membutuhkan pencipta. Tidak ada sesuatupun ada sebelum Dia, dan segala sesuatu pasti ada dan akan terjadi atas kehendak-Nya. Antinomi (kontradiksi antar prinsip) ini dengan jelas menerangkan bahwa kemampuan nalar (Kant) ada batasnya dan argumentasinya akan mendatangkan kontradiksi yang membingungkan.
2. Tuhan
Penciptaan dunia yang lambat laun itu mensyaratkan adaya satu pecipta yang mesti bersifat immaterial, sebab materi yang merupakn suatu kejadian dunia diciptakan oleh satu pencipta. Dunia tak bisa maujud dengan sendirinya, pasti dan harus ada penciptanya.Jika Tuhan bersifat material, maka akan membawa suatu kemunduran yang tiada akhir. Oleh karena itu, dunia ini pasti mempunyai pencipta yang tidak berwujud benda, dan karena Dia bersifat immaterial, maka kita tidak bisa mengenali-Nya lewat indera kita atau lewat imajinasi. Sebab imajinasi hanya menggambarkan hal-hal yang dapat ditangkap oleh indera.
3. Kosmologi Cahaya.
Manifestasi kemajemukan dari yang sau dijelaskan dalam gaya Neo-Platonik yang monoton, sebagai tahap berurutan pemancaran yang berasal dari cahaya Tuhan.Proses tersebut pada prinsipnya sama dengan refleksi terus menerus cahaya matahari pada cermin. Cahaya matahari yang jatuh pada cermin menunjukkan kemajemukan. Semua itu merupakan pantulan cahaya matahari, bukan matahari itu sendiri, juga bukan cermin itu sendiri. Hal yang sama berlaku juga pada cahaya pertama (Tuhan) beserta perwujudannya di dalam kosmos.
4. Epistimologi
Jiwa dalam tahap awalnya bukanlah suatu tabula rasa atau papan tulis kosong. Melainkan Imaji Tuhan telah tersirat didalamnya sejak awal, tetapi untu menjadikannya tampak nyata, kita perlu memulai denga pikiran yang jernih tanpa prasangka.
Pengalaman merupakan suatu proses mengenal lingkungan lewat indera. Organ-ogan indra ini berfungsi berkat jiwa yang ada dalam hati. Pengamatan memberi kita pengetahuan mengenai benda-benda yang induktif, dengan alat pembanding dan pembedanya dikelompokkan menjadi mineral, tanaman, dan hewan. Setiap kelompok benda ini memperlihatkan fungsi-fungsi tertentu yang membuat kita menerima bentuk-bentuk atau jiwa-jiwa sebagai penyebab fungsi-fungsi tertentu berbagai benda.Ibnu Tufail akhirnya berpaling kepada disiplin jiwa yang membawa kepada ekstase, sumber tertinggi pengetahuan. Dalam taraf ini, kebenaran tidak lagi dicapai lewat proses deduksi atau induksi, melainkan secara langsung dan intuitif lewat cahaya yang ada didalamnya. Jiwa menjadi sadar diri dan mengalami apa yang tak pernah dilihat mata, didengar telinga, atau dirasa olehhati.
5. Etika
Bukan kebahagiaan duniawi, melainkan penyatuan sepenuhnya dengan Tuhanlah yang merupakan “summum bukmun” (kebaikan tertinggi) etika. Perwujudannya setelah pengembangan akal induktif dan deduktif.Menurut de Boer manusia merupakan perpaduan suatu tubuh jiwa hewani dan esensi non-bendawi, dengan demikian menggambarkan binatang, angkasa, dan Tuhan. Karena itulah pendakian jiwanya terletak pada pemuasan ketiga aspek tersebut. Pertama, ia terikat untuk memenuhi kebutuhan tubuhnya serta menjaganya dari cuaca buruk dan binatang buas. Kedua, menuntut darinya kebersihan pakaian dan tubuh, kebaikan terhadap objek-objek hidup dan tak hidup. Ketiga, yaitu pengetahuan, kekuasaan, kebijaksanaan, kebebasan dari keinginanjasmaniyah.
6. Filsafat dan Agama
Filsafat dilain pihak merupkan bagian dari kebenaran esoteris. Ia berupaya menafsirkan lambang-lambang agama tentang konsep-konsep imaji murni yang berpuncak pada suatu keadaan yang didalamnya terdapat esensi ketuhanan dan pengetahuannya menjadi satu. Persepsi rasa, nalar, dan intuisi merupakan dasar-dasar pengetahuan filsafat. Para nabi pun memiliki intuisi, sumber utama pengetahuan mereka adalah wahyu Tuhan. Pengetahuan nabi didapat secara langsung dan pribadi, sedangkan pengetahuan para pengikutnya didapat dari wasiat.



comment 0 komentar:

Poskan Komentar

 
© Sepenggal Taqdir | Design by Blog template in collaboration with Concert Tickets, and Menopause symptoms
Powered by Blogger