Featured

Selamat Datang di http://ghanie-np.blogspot.com Dan Selamat Menikmati Sepenggal Taqdir Dari Anak Kepulauan Ini
Mohon ma'af sebelumnya, sudah lama tidak saya Update, karena masih banyak kesibukan yang harus saya selesaikan.
Sekedar Kata Pengantar :
Kureguk kopi sambil menyelesaikan satu puisi. Kamu di sisiku, menjadi kitab refrensiku. Kubuka halaman hatimu, tak kutemukan kata pengganti yang lebih indah untuk kutulis. Selamat Menikmati...
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

1 SEPENGGAL TAKDIR

Awan mendung bertiup dan mulai bergemuruh di langit yang sebelumnya biru. Kilat dengan serta merta menyambar turun ke Bumi, dan baru beberapa detik kemudian suara guntur terdengar menggelegar bagai dentuman meriam langit atau letusan gunung berapi yang memuntahkan magma serta debu vulkanik jauh ke angkasa. Tak sampai di situ saja pengaruhnya, awan itu juga menebar teror kegelapan dan seketika langsung merasuk juga mencengkeram dengan membonceng ketakutan, hingga dapat melelehkan kebahagiaan yang tersimpan dalam frame-frame kenangan masa lalu.

Di padang rumput laut kepulauan kecil terlingkar samudera, aku berdiri kokoh bagai patung di tengah kota. Di atas sebuah pulau kecil, di mana sepasang kaki sejak tadi menapak mengakar. Akupun menatap ke langit, ke sebuah gumpalan awan yang makin menghitam tiap detiknya. Fisikku yang tinggi dan sedikit besar terlihat samar saat sekelebat cahaya petir menyambar dengan gila, merambat pada sela-sela udara yang berubah dingin.

“Kau tidak adil padaku?” teriakku entah kepada siapa.

Mungkin ditujukan kepada salah satu gumpalan awan di atas sana atau petir, atau bahkan untuk Sang Khalik pemilik segalanya, di mana wujud-Nya tak akan pernah nampak oleh sepasang indera yang berbinar murka’. Tidak mungkin ada organ bahkan alat buatan makhluk manapun yang bisa melakukannya. Kecerdasan manusia itu terbatas. Semua telah diatur dalam sekat-sekat sel yang ada di otak.

“Mengapa Kau ciptakan takdirku seperti ini?, Nasibku merana menjadi hamba terhina. Apa Kau tidak mendengar sebutan mereka padaku?, Mereka bilang kalau aku ini tidak berguna, lemah, bodoh, goblok, tolol, kuno, primitif atau apalah terserah kata mereka.”

Air mata membasahi binaran indera lalu mengeluarkan letusan pilu kesedihan.

“Di mata mereka, aku ini sangat rendah. Lebih rendah dari kumpulan sampah yang terbuang, Cacat dan tak pantas berada di antara mereka”.

“Sesungguhnya, mereka itu salah. Kau bisa lihat sendiri, tak ada kecacatan dari fisik yang kau ciptakan ini. Semua organku lengkap, otakku juga masih betah bersemayam di kepala, dan hati serta jantungku juga tetap pada tempatnya. Sama seperti mereka. Lalu mengapa mereka terus saja memanggilku seperti itu?. Merendahkanku di muka umum?. Apa yang salah pada diriku?.”

Dengan punggung tangan, aku mengusap mata.
“Mengapa Kau tetap diam?. Apa Kau Bisu?, Tuli?. Katanya, Kau selalu mendengarkan keluh-kesah semua hamba-Mu. Mana buktinya?, Mana?!!. Omong kosong. Semua itu ternyata bohong.”

Aku diam sesaat, mencoba mengatur tingkat emosi yang semakin meluap-luap dalam diriku.

“Jika Kau memang adalah Sang Penguasa. Raja di atas segala raja, buktikan padaku!” teriakanku semakin lantang.

“Tunjukkan kekuatanmu...!, Mana kekuasaanmu...!.”

Aku menghela napas sekali, seakan ingin menyampaikan sebuah ultimatum yang harus terlaksana.

“Aku ingin punya sayap. Sayap indah yang bisa membuatku terbang dan tak lagi mendengarkan sebutan merendahkan mereka kepadaku. Aku ingin menjauh dari koloni mereka. Menjauh sejauh-jauhnya. Aku ingin terbang. Terbang seperti burung yang bebas di angkasa. Setinggi-tingginya hingga mencapai puncak awan.”

Pagi telah datang lagi, mataharipun belum menampakkan semburat sinarnya dari kejauhan ufuk timur. Tampaknya sang surya masih terlelap di peraduan angkasanya. Kabut semi transparan juga masih menguasai sebagian badan jalan memenuhi ruas-ruas desa didaerahku. Tetes embun belum memuai menjadi uap air dan menyatu dengan udara, menyebabkan udara makin lembab. Sayup angin seakan menguak sebab keheningan di beberapa lorong sempit ditempat aku berpijak. Makhluk-makhluk belum menampakkan diri. Masih bersemayam di balik selimut kehangatan.

Jam wekerpun berbunyi nyaring, bergema menguasai ruas-ruas dindig telinga bagai bunyi lonceng emas di puncak kuil Olympus, seakan meramalkan kejadian mengerikan yang nanti akan terjadi.

Ketika selimut disibakkan, tubuh setengah telanjang ada di baliknya. Deretan tulang rusuk tercetak di sana, bagai urat yang menonjol dari balik kulit. Ku buka mata, Sedikit demi sedikit suasana sekitar mulai tertangkap oleh indera, menampilkan susunan langit-langit kamar berwarna putih dengan lampu kecil yang masih menyala.

Sa’at ini aku baru merasakan pagi yang mungkin cerah. Kantuk yang masih terasa, aku paksa pergi dan menghilang. Sekarang waktunya melanjutkan hidup.

Sejenak, aku menggeliat keenakan lalu menguap bagai sang penguasa rimba. Setiap bukaan mulut bagai menghisap ion-ion kehidupan yang ada disekitarku hingga tak bersisa. Sungguh aku rakus sekali. Tak puas atas apa yang telah ada padaku. Ingin terus menambah, menambah, dan menambah.

Sinar matahari menerobos masuk melalui sela-sela tirai penutup jendela hatiku. Cahayanya menghangatkan aliran darah dan mencairkan keheningan. Seolah-olah kehidupan mulai tersusun kembali setelah tidur sekian lama, setelah berhibernasi dalam kegelapan.

Aku tersenyum simpuh seakan tak percaya, “Mimpi itu benar-benar aneh. Aku seolah-olah berbicara kepada Tuhan. Bagaimana mungkin?”. “Tidak masuk akal.”

Namun jauh di lubuk hatiku, aku bener-benar menginginkan hal itu terjadi. Mimpi itu seolah-olah mencerminkan isi hatiku. Menggambarkan kalut yang selama ini menyiksa batin dan jiwaku. Aku tak bisa berbohong lagi. Walau hanya di dalam mimpi, aku telah puas. Yang jelas, aku telah menumpahkan suara hatiku. Lainnya, bagiku tak penting. Hari ini harus dijalani dengan perasaan bahagia. Tak ada beban sedikit pun yang lagi menghinggap. Telah hilang dan menguap bersama embun.

Ketika aku berdiri, sesuatu seperti bergoyang dari punggungnku bergerak-gerak. Aku merasakan keanehan terjdi dikepulauanku yang hampir tenggelam. Kepalaku coba ditengokkan ke belakang. Secara reflek tanganku ikut membantu.

“A... apa ini?”, aku berteriak kaget. “Mengapa benda ini bisa melekat di tubuhku?”.

Sepasang sayap kecil bergerak-gerak mengikuti gerakan punggungku. Mengibas-ngibas bagai sayap burung yang terbang bebas di angkasa. Sepasang sayap itu berwarna hitam namun tak berbulu. Lembut dan menyerupai daging yang terbalut kulit dengan beberapa tonjolan tulang.

“I... ini sayap kelelawar,” perasaanku berbisik ketakutan. “A... apa yang terjadi?, Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Mengapa... mengapa sepasang sayap menakutkan ini tumbuh di punggungku?.”

Dengan terpaksa, aku mencoba melepaskan sayap itu sekuat tenaga. Namun setiap upaya untuk menarik sayap itu agar terlepas dari tubuhku, telah membuat kulitku sakit. Kulit punggungku seperti tertarik dan hampir sobek. Hal itu sia-sia saja. Sayap itu telah bersatu dengan tubuhku dan menjadi bagian atas diriku.

Aku tak terima. Tangis dan teriakan tak ada gunanya. Semua itu tak bisa mengembalikan tubuhku ke kondisi semula dan normal kembali. Aku merenung beberapa menit ke depan ketika matahari kian meninggi. Sedikit demi sedikit aku bisa menerimanya walau tak sepenuhnya. Aku masih tak tahu harus berbuat apa.

Mungkin ini pengaruh dari mimpi itu. Aku benar-benar berbicara kepada Tuhan, gumamku dalam hati antara percaya atau tidak. Dengan kesadaran yang telah kembali, aku berkata setengah berbisik.

“Hidup harus dilanjutkan. Tak ada gunanya penyesalan. Tapi...”

Dua puluh menit kemudian aku ayunkan kaki untuk melangkah. Mencari alat untuk menutupi sepasang sayap itu agar tidak kelihatan. Diambilnya gulungan perban kemudian kulilitka ke punggungku. Terus, terus dan terus, hingga tonjolan sayap itu tak tampak. Setelah selesai, lanjut aku memulai hidup dalam lalu kemeja yang dikombinasikan dengan semangat hitam bergaris. Aku berdiri di depan cermin, memperhatikan sejenak keadaan jiwaku, lalu berputar beberapa kali.

Aku terlihat seperti manusia normal kembali dan topeng ini akan membuatku menyerupai mereka. Bibirnya dipaksa mengurai senyuman. Ditepuknya bagian jiwaku yang terlihat berdebu duka, simpul keputus asaan dirapihkan dan disembunyikan di bawah kerah kesemangatanku.



Read more

0 KERUDUNG BERSULAM MENDUNG

Jilbab malam tuntas dikenakan langit, dengan hias-hias payetan beberapa kian bintang, seusai kelopak-kelopak senja berguguran. Senyum sabit merah masih nampakkan lelah, mengintip di antara daun belimbing, dan jatuh setelah menerobos santun menyibak tirai.
Sedang dalam sujud lembut lelaki itu masih saja terbenam di antara rakaat-rakaatnya. Hanyut dalam hening. Hanya nada detak jarum detik dari jam dinding berbentuk kotak di kamar kost itu yang sedikit mengaburkan hening. Kasur lantai beralas tikar masih tergulung di sisi sajadah merah, tempat lelaki itu mendirikan shalat. Dan diambang pintu, sejak tadi sesosok gadis tampak rela dan setia duduk menunggu. Menunggu lelaki itu usai dari shalatnya.
Usil-usil sambil menunggu, gadis itu membidikan kamera dari ponselnya. Mengambil sujud hingga tahiyat lelaki berwajah teduh itu. Gadis itu datang dengan sebuah pertanyaan atas harapan yang ia rangkai sendiri jawabannya, berdasar pada keyakinannya. Hanya kali ini dia ingin mendengar langsung jawabannya dari bibir lelaki itu. Dia ingin segera merasakan ucapan indah itu darinya. Karena hanya ialah lelaki yang tertangkap lain oleh perasaannya.
“Rupanya ada tamu. Sudah lama, De’?” tanya lelaki itu dalam masih melipat sajadah merah berbahan beludru. Senyum si gadis merekah. Kaos biru ketatnya amat menyala dijilat terang lampu lima belas watt.
“Emm,lumayan lama. Sekitar lima jaman Kak!” candanya, sambil memasukan kembali ponsel ke dalam tasnya. Dan hanya ada kulum senyum dari lelaki itu. Lelaki itu melanjutkan pertanyaannya, “Memang ada apa malam-malam begini De’? Tapi, tidak untuk nagih uang kost kan?, Karena minggu lalu sudah dibayar sama Ibu!”
Gadis berambut sebahu itu melongok keluar, sebentar, memperhatikan suasana sekitar. “Nggak lah Kak. Saya kesini cuma ingin cepet-cepet denger jawabannya!” ada nada manja dalam nada bicaranya. Tapi masih hanya senyum yang keluar dari lelaki dengan wajah menunduk itu.
“Iih.. Kok malah senyum-senyum sih, Kak? Bukannya saya disuruh masuk dulu!” gerutunya, menampakan warna manja yang sama. “Tapi lebih baik kita bicaranya di luar. Di dalam nggak enak sama tetangga!”. “Cuek aja Kak. Toh kontrak mereka punya papaku juga!”
“Ya sudah putri juragan kontrakan. Mau jawabannya atau tidak? Kalau mau, berarti kita bicara diluar!”. Jalan yang tak terlalu besar itu masih nampak agak ramai karena waktu sholat isya’ baru satu jam berlalu. Di bawah pohon belimbing di ujung jalan, masih nampak pedagang nasi goreng yang sedang meladeni sesosok ibu muda dan seorang gadis centil yang pura-pura sibuk dengan digit-digit ponselnya. Mencolok, dengan celana kira-kira berukuran sejengkal dua jempol dari pinggangnya. Di satu sisi merasa bangga telah bisa mengambil perhatian orang-orang yang melintas, tapi di sisi lain lagi, ia merasa risih. Terlihat dari delik dan kerutan kelopak matanya.
“Neng, ikut Abang dangdutan yo?, sapa pemuda jalanan yang baru aja lewat”. “Brengsek lu!” tiba-tiba, bersama sejurus tamparan yang mendarat di pipi seorang pemuda yang berani-beraninya mencolek tubuh moleknya. Pemuda itu tertawa-tawa saja sambil menyusul teman-temannya yang telah berlari terlebih dulu, sedang orang-orang yang melintas hanya tersenyum asyik saja.
“Kacian deh lu!” ujarnya sambil tertawa-tawa geli memperhatikan kejadian antara pemuda dan gadis bercelana mini di ujung jalan tadi.
“A’uudzu billahi minasy syaithaanirrajiim!” lirih ucap lelaki itu sambil menutup pintu kamar kostnya. Melangkah menuju gadis yang sudah duduk di bangku terlebih dulu di teras kontrakan paling pojok.
“Gimana, diterima kan?” sambut si gadis beserta rona yakinnya yang masih menyisakan sedikit tawa. Lelaki itu terdiam dengan duduk yang menjarak. “Kamu sudah shalat, De?” lelaki itu balik bertanya padanya. Dan perlahan warna aneh menggantikan rona yakin dan keceriaan tawa dari wajahnya. “Gadis itu, hanya mau jawabannya, Kak!” elaknya,mengaburkan cela.
Hening. Lelaki itu menghela nafas. Lama, karena terdapat rasa berat di dadanya. Ia tak ingin mengecewakan gadis manja itu, ia tak mau meretakkan keyakinan gadis itu, tapi….
“Hh, bagiku kamu tak cantik, De’!”
Dalam menunduk, alis si gadis menyimpul. Kini tak ada alasan lagi bagi keyakinannya untuk tak tersentak.
“Mengapa bisa??” ucapnya berkali-kali dalam hati.
Sungguh, dialah satu-satunya lelaki yang menyalahi hukum alam yang telah dibuat dan ditetapkannya atas semua lelaki. Padahal sebelumnya, tak ada dan tak mungkin akan ada lelaki yang mampu mengatakan bahwa dirinya tak cantik, bahkan ‘mereka’ mengakui bahwa dirinya nyaris sempurna, tapi lelaki ini… “Harusnya dia juga memujiku demikian!!”
Keheranan itu tak juga surut dari benaknya dan rasa sakit yang tak sedikit, kini terus saja menghimpit hatinya. Keyakinannya benar-benar telah salah dan kalah menyakitkan. Dan untuk yang kesekian kalinya, bintang-bintang itu mengerling entah pada tatapan mata siapa.
“Apa kau mencintai dirimu sendiri?”, tutur lelaki itu mengembalikan keheranan si gadis yang kini tertunduk diam.
“Siapapun orang itu, dia pasti mencintai dirinya, Kak!” kata-katanya kini lebih datar dan pantulkan kedewasaan, namun berakhir dengan sebuah isak tangis yang pelan diterpa ketemaraman malam.
“Bolehkah aku meminta sesuatu, De,?” lanjut lelaki itu.
Namun pertanyaan itu begitu tertangkap lain, hingga mampu menumbuh utuhkan retak-retak keyakinan di dada gadis itu lagi. Dia menoleh ke arah lelaki itu, tapi tetap pandangan lelaki itu lurus ke depan, memandang hampa jalan gang yang sudah mulai nampak sepi, seolah tak pernah hirau atas isak tangis si gadis terlebih atas penampilan khususnya malam ini, yang dinisbatkan hampir seluruh lelaki adalah”cantik sempurna”.
“Bolehkah aku meminta sesuatu?” lelaki itu mengulangi tanyanya.
“Mintalah. Seluruhku utuh untukmu, Kak!” dengan suka serta rela dia menuturkan pesona kata pamungkasnya, yang tak pernah dia berikan pada siapapun. Tapi mungkin dengan begitu “harga kemunafikan lelaki ini akan tergadaikan”, pikir piciknya. “Maukah kamu berjlbab?”, lanjut lelaki itu.
Sungguh, bukan ini yang gadis manja itu harapkan. Karena sebelumnya tak pernah terpikir malah akan dihadapkan dengan sebuah permintaan dan tak pernah terbayangkan akan melenggang pulang hanya membawa bimbang.
***
Rangkum-rangkum hari menimbang-nimbang bimbang. Dalam pertimbangan antara keraguan, kepatahan, kecamuk rasa malu, dan beserta sebuah harapan, namun kini. “Jika berjilbab?”
Dan jalan gelisah itu disapa sebentuk cercah dalam muqadimah sebuah pagi. Di kantin kampus sekelompok mahasiswa sedang ngalor-ngidul mengobrol dengan mata-mata yang sambil asyik larak-lirik sana-sini.
“Ya Habibi?, kata pemuda dikantin kepada Gadis itu.” dengan nada kaget berikut canda seseorang bertanya serta telunjuk yang menipu ke arah sesosok gadis berkerudung. namun tak ada jawaban, hanya ada keterkesimaan dalam tatap keterpukauan dan ketak percayaan mereka.
Ya gadis itu. Dengan wajah cemberut bernaung kerudung, sedangkan menguntit di belakangnya seorang lelaki dengan bibir terus nyerocos melayang-layangkan berjuta tanya padanya.
“Wah Brow, berarti nggak bakal ada pemandangan indah lagi dong?” celetuk seseorang dari mereka menimpali, yang berakhir tumpah dalam tawa serta celotehan selanjutnya. Gadis itu berhenti dalam langkah menuju kantin. Dia merasa lebih baik berbalik untuk kembali ke kelasnya.
“Terserah gue dong!” dengan bibir sengaja manyun sambil langkah setengah berlari.
Kata itu meluncur mengenai seorang lelaki penguntit tadi yang terus melayangkan tanya dan nada-nada protesnya. Bisa jadi, ini adalah hari terberat, termalu, karena di dalam kelas pun semua mata silih berganti menatap ke arahnya, tapi dengan tatapan-tatapan yang berbeda dari tatapan-tatapan yang sebelumnya. Dan rasa risih, akhirnya menuntun dia juga untuk buru-buru pulang, menuju pelataran parkir motor kampus. “Hai, berubah nih?, sapa teme-temenys, pengen kayak aku ya?” ujar canda seorang gadis berkerudung sambil menggandeng tangan seorang lelaki di sampingnya.
“Hei Kamu????, Sumpah lebih cantik!” timpal yang lelakinya menyelidik, dan tak menduga gandengan gadis disebelahnya akan berubah menjadi cubitan.
Gadis itu hanya tersenyum hampa seraya berucap salam, kemudian berlalu dengan motor maticnya, meninggalkan pertengkaran sepasang muslim yang tak muhrim di pelataran parkir.
Disambut pohon Palem tegak lurus yang terurus, kuntum-kuntum Mawar yang sudah merekah di taman rumah dan beberapa pohon Murbei yang belum berbuah. Mang Ahmad terlihat bersemangat membuka dan menutup pintu gerbang untuk putri satu-satunya sang majikan. Gadis itu pun membalas senyum ramah Mang Ahmad yang sudah setia membantu-bantu di rumahnya, hampir sepuluh tahun bersama istrinya, Bi Marni.
“Bagaimana hari pertama berjilbabmu?” tutur teduh ibunya sedikit menumbangkan bimbang yang sedang kembali membuatnya timpang. Si ibu melangkah dan memeluk anak gadisnya yang sedang berhadapan dengan sebuah cermin di kamarnya. Ia tahu anak gadisnya sedang kembali dikacau ragu.
“Kamu kuat pasti kok!”, saut Ibu dari belakang.
Gadis itu tersenyum dalam pelukan ibunya. Hawa sejuk pun terasa memeluk hatinya. Dia memungut kembali bulatnya niat dan tekad yang sempat tertinggal siang tadi.
“Dengan memakai kerudung, kamu malah lebih cantik”, lanjut ibunya, sambil mengusap titik-titik airmata di pipi gadis itu.
“Dan dengan kerudung itu, Ibu selalu tetap cantik!” tuturnya dibalas seulas senyum.
Senyap sejenak, dibelai damai dalam ikatan setali kasih. Kemudian Ibunya menjelaskan kalau lelaki yang kos disitu pulang kampung karena Ibunya sakit. Dengan spontan si Gadis itu bertanya, “pulangnya lama tidak Bu?” sahutnya.
“Insya Allah, lima hari katanya!” jawab ibunya seraya menyelidik.
“Benar, semua perubahan yang ada dikamu larena Laki-Laki itu?” terka ibunya. Gadis itu hanya menjawab dengan senyum sambil menunduk.
“Bu, Saya mau shalat dulu ah!” dengan kemudian berlari kecil menuju toilet di kamarnya. Sedangkan di kisi hatinya ada ucap-ucap sesal dan kecewa karena sudah satu minggu ini dia tak sempat menemui lelaki itu Terlebih dia kecewa, karena belum sempat memberikan kejutan untuk lelaki yang telah merubahnya itu.
Sedangkan ibunya hanya terus bersyukur atas perubahan anak gadisnya itu, meski masih ada sesuatu yang dirasa mengganjal dalam hatinya. Tanpa terasa sambil menatap anak gadisnya berlalu, perlahan dari balik kaca matanya mata teduhnya telah berkaca-kaca.
“Suatu saat, semoga berjilbabmu bukan karena apa ataupun siapa Nak?” lirih.
Dan dari balik daun pintu kamar itu, seulas senyum pun turut terhimpun dalam keterharuan wajah seorang ayah.
***
“Kuatkan aku untuk berhijrah, tetapkan aku dalam istiqamah, BISMILLAH!”
Cermin itu tersenyum anggun menatap wajah si gadis yang mengekspresikan warna-warna kemanjaan dengan mengenakan kerudung bercorak biru mendung. Dengan bingkisan nasihat dan tutur penyemangat dari kedua orang tuanya, gadis itu membawa kekuatan baru untuk menapaki lari-lari hari. Rasanya dia telah mampu menghadapi tatapan-tatapan dan ocehan-ocehan mempermalukan di kampusnya itu.
Setelah berpamitan kepada kedua orang tuanya, motor matic yang baru dihadiahkan ayahnya dua bulan lalu sebagai kado ulang tahun itu, kini hilang di balik pintu pagar sebuah rumah besar bertaman mawar, kuntum-kuntum mawar yang pula berhamdallah samar.
“Wah, alhamdulillah ya Bu. Si Non sekarang benar-benar mulai berubah. Sudah berjilbab, dan sekarang mah nggak pernah pulang larut malam lagi!” tutur Bi Marni, pembantu di rumah itu sambil membungkukan tubuh merapihkan meja makan seusai keluarga sang majikan sarapan.
“Iya Bi, alhamdulillah!” jawabnya, diyakan pula oleh ayah si gadis yang telah bersiap dengan jas dinasnya.
Sedang daun pintu perpustakaan baru saja mengusir sebuah langkah gontai seorang gadis yang padahal sejam lalu masuk dengan nada riang keceriaannya. Gadis itu berjalan menuju kelas dengan tertunduk.
”DARI RAGA ATAU DARI HATI, BERJILBAB ANTI?” Tulisan-tulisan dari sebuah buku yang dia baca di perpustakaan kampus tadi, terus mengurung, mengejawantah dalam ingatannya. Karena dia sendiri tak bisa mengelak, di antara alasan berjilbabnya adalah karena lelaki itu, lelaki yang bayangannya mulai sering datang bertandang.
Sedangkan dia pun tak bisa menyembunyikan, bahwa dia ingin segera menunjukkan, kini dirinya telah berjilbab, seperti apa yang pernah dimintanya di malam itu.
“Lalu setelah Laki-Laki itu tau bahwa saya telah berjilbab, apakah lantas dia akan menerimaku?, Lalu apakah berjilbabku hanya agar cintaku diterima oleh dia?, benarkah alasan berjilbabku?” sesuatu meliputi lagi perdebatan di hatinya itu.
Rindu seminggu menjelma menjadi seperti separuh windu karena selalu begitu falsafah yang termaktub bagi jiwa-jiwa yang memiliki dan menyimpan buluh-buluh perindu. Bagi perindu, selama apapun itu, selalu melampaui nyatanya waktu. Kini lelaki itu belum juga kembali tapi dalam resahnya rindu, gadis itu hanya mendapat senyum atas sebuah keyakinan karena jilbabnya itu.
Sepulang dari kampus, dengan tatapan-tatapan yang telah tak dia pedulikan, dia merebahkan kelelahan tubuh dikasur kamarnya.
“Alhamdulillah kan, hampir seminggu? Apa kata Ibu, lama-lama juga pasti terbiasa?” ibunya sudah nampak berdiri di belakangnya dengan sambutan senyum, yang sunggingan keterpaksaanya telah berhasil disembunyikan.
Gadis itu bangun dan membalas senyum dalam anggukan dan ucapan insya Allah yang lirih.
Kemudian Ibu menceritakan kedatangan Lelaki itu tadi pagi. Lelaki itu sebenarnya menitip pesan sama anaknya.
Amanat yang mengetuk-ngetuk hati, akhirnya tak kuasa ditahan lebih lama lagi oleh ibunya. Sedangkan mata gadis itu sudah lebih dulu berbinar, menatap tatapan nanar ibunya, seolah menampakan segudang ria yang sudah dua minggu ini terkangkangi. Sang ibu melangkah dan duduk lebih mendekat ke samping putrinya itu.
“Tapi dia hanya datang sebentar, kemudian kembali pulang.”
Rasa gembira yang belum sempat gadis itu tumpahkan akhirnya tertahan oleh sebuah tanda tanya besar. Ibu itu mengelus kerudung yang di kenakan putrinya untuk kemudian mengecupnya, perlahan sambil menutup mata, seperti mencari sebuah isyarat dalam kegelapan.
“Ada apa, Bu?” gadis itu mulai bisa membaca bahwa ada sesuatu yang ibunya sembunyikan.
“Dia datang, dan Ibu ceritakan bahwa kamu sudah berjilbab. Dia terlihat bahagia. Bahkan sebelum dia pulang kembali, dia sempatkan diri untuk membeli dan menitipkan kerudung ini untukmu,” tutur datar ibunya seraya menyerahkan sebuah bungkusan.
“Tapi ada apa hingga Lelaki itu harus pulang kembali ke kampungnya, Bu?” pertanyaan itulah yang sedari tadi tak di kehendaki datang oleh ibunya. Kini mendung itu lebih terlihat dari balik kaca mata bening ibunya. Terasa sangat berat menuturkannya, namun amanat itu semakin keras mengetuk pintu hati ibunya.
“Tapi Dia juga menitipkan ini dan ini!”dengan berat ibunya menyodorkan sebuah surat.

Isi suratnya :
” Semoga hidayah itu sungguh-sungguh atasmu
Setelah mendengar kamu sudah berjilbab dari Ibu, kusempatkan memuji dengan tulisan-tulisan ini.
Setelah mendengar kau sudah berjilbab, ada ketenangan di dalam hati
Walau tanpa melihatnya, namun aku meyakinkan hati, bahwa kamu lebih cantik
Tapi bukan berarti semua yang kamu lakukan itu krena aku
Aku akan selalu memohon, jika kamu berjilbab karena permintaanku
Semoga berjilbabmu bukanlah karena permintaanku yang pernah memintamu berjilbab
Lakukanlah semua itu semata-mata karena kamu takut sama Tuhannya
Dan kerudung ini, kutitipkan bersamamu
Bersamanya, qasidahkanlah kisah terindah teruntuk goresan tinta dalam catatan RAQIB.
Singkat kata dari semua pujianku ini
Aku ingin katakan sesuatu yang ini mungkin selalu menghantui perasaanmu
Aku tau kamu masih berat dengan semua ini
Tapi aku harus jujur dengan persaan ini
Bukannya aku tidak kagum dengan kecantikanmu
Dan bukannya aku tidak terharu dengan segala perubahanmu
Kalau cinta yang kamu harapkan dari aku
Aku tidak bisa memberikannya kepadamu
Karena di hatiku sudah ada wanita yang menguasainya
Dia adalah masa depanku, dan aku sangat mencintainya
Aku tidak ingin berhianat kepadanya
Dan ma’afkan aku jika telah membuat kamu cinta dengan segala kekurangaku
Dan semoga berkenan kau memaafkan Kakak
Wassalam.”

“Dia sudah punya calon istri Bu?” ada nada keremukan dalam suaranya yang tertahan-tahan. Dan bimbang-bimbang itu seperti menemukan celah untuk kembali membisik-bisik
Di teras luar kamarnya, sabit merah membias cemas. Dari balik pohon palem mengintip taman mawar dengan pancar pudar memperhatikan wajah si gadis yang nanar. Angin nakal bertiup, memainkan kerudung yang dikenakannya. Butir-butir bening air mata pun telah jatuh membasahi kerudung biru baru dari lelaki itu yang sedang ia dekap penuh rindu haru. Tangguh itu goyah, terdampar di padang asmara yang disemaraki lara. Namun, senyum tulus itu akhirnya hadir mengemas-ngemas getir.
”Insya Allah, berjilbabku atas nama cinta.”






Read more

0 DERAI DERAI AIR MATA CINTA Cerpen: Nuzulisnaini P

Di tengah keramaian kota Surabaya, aku mencoba untuk menenangkan diriku. Aku mencoba untuk melangkahkan kaki, menuju kedepan halaman kost ku, dinginnya malam kian menusuk ruas sendi-sendi tulangku. Aku menahan rasa yang terus bergejolak dalam hatiku dan aku terdiam sunyi, menyaingi keheningan malam. Pikiranku teringat pada seorang laki-laki yang kukenal saat mengabsen di ruang kelasku.
”Vina, cepat kesini. Ayo tidur sudah malam”, Suara Jeng Vina yang cempreng itu membuyarkan lamunanku.
Aku tidak bisa memejamkan mata walau kucoba tuk menutupinya dengan bantal. namun, sia-sia. Hatiku terasa rindu dengan seseorang, entah siapa itu, apakah dengan laki-laki itu?. Aku berusaha untuk menepis rasa itu, tapi malah hanyut dalam kerinduanku padanya. Ya Allah, perasaan apa ini?. Setiap kali aku memandang laki-laki itu, aku selalu ingin mengenalnya lebih dalam dari hanya sekedar sahabat. Apakah ini cinta?, aku menghela nafas dalam-dalam. Laki-laki itu biasa dipanggil Mr GhoGhon, dia satu fakultas dengan aku, dia tidak cakep, biasa-biasa saja, ndeso, banyak sekali kekurangan dalam dirinya tetapi kenapa aku merindukanya?, emang sich! dia baik sama aku. Entahlah, akhirnya akupun terlelap dalam mimpi malam itu.
Hari berganti hari, entah bagaimana caranya aku bisa akrab dengan dia. Kita seperti adik-kakak yang saling mengisi, melengkapi, dan memotivasi satu sama lain. Dia juga menghiburku dikala aku sedih.
”Kamu mahasiswa yang belum pernah pacaran disini, jadi berhati-hatilah! apa lagi kamu cewek yang lugu“.
Salah satu pesannya kepadaku. Tiba-tiba “kring-kring” ponsel HP ku berbunyi, ku lihat ternyata dari Mas GhoGhon. Dia mengajak aku malam ini pergi ke alon-alon Sidoarjo, ku harap malam ini adalah malam yang menyenangkan.
”Aku menyukaimu“. Ungkap dia dengan terbata-bata. Suasana alon-alon yang tampak ramai, sejenak hening, tanpa ada sepatah katapun yang keluar dari mulut kami berdua. Entah seperti apa suasana hatiku senang, gugup, susah, takut bergabung menjadi satu. Aku tidak mengeluarkan satu katapun pada dirinya.
Suasana pagi yang dingin membuatku tidur terlelap seolah-olah tidak menghiraukan kejadian semalam di alon-alon, tiba-tiba terdengar bunyi Hp, ternyata SMS dari dia.
“Aku minta maaf telah berani mencintaimu”, aku keadaan belum bisa memutuskan ini, ”sekali lagi aku minta maaf, aku minta maaf karena aku mencintaimu, sebenarnya perasaan ini bukan baru terlintas dalam hatiku, tapi sudah lama menyelinap dalam hatiku, namun selama ini aku menahan dan menyimpan dengan rapi. Dengan banyak pertimbangan aku beranikan diri untuk mengungkapkannya. Sekarang kamu tidak perlu menjawab atau menanggapi presentasiku ini.”
Air mataku menetes tanpa kusadari, kurasakan getar jantungku begitu kencang setelah membaca SMS tadi, apakah aku mencintainya?. Aku tidak bisa berkata apa-apa, mungkin di kamar sana dia juga mengalami hal yang sama, meskipun suasana hati agak berbeda.
“Ya Allah!, semoga ini menjadi jalan yang terbaik bagiku, aku cinta padanya. Ya Allah”. Ku usap air mataku dengan tisu dan berusaha menenangkan hatiku, pikiranku teringat lagi dengan dia, lalu mengalir lembut di hati bayang-bayangnya yang selalu bersembunyi dibilik hatiku. Aku rasakan bahagia dan begitu dingin hatiku ditengah suasana Surabaya yang panas ini.
“Kamu kenapa kok berubah gitu?, melamun terus ada masalah ya?”, tanya Jeng Vina dengan raut muka penasaran dan sedikit mengernyitkan dahi, memulai percakapanku di dalam kamar kos sesudah sholat isya’.
“Nggak ada apa-apa lagi, Cuma bingung aja”, tanya Jeng Vina yang sama-sama dari Lamongan yang paling akrab denganku, tahu betul semua tentangku. Hanya masalah di hatiku saja yang sedikit orang tahu. Kami saling support satu sama lain. 
“Kamu ada masalah apa?”, tanya Jeng Vina padaku dengan gaya investigator ulung, pertanyaan yang mulai kurasakan sepertinya berusaha mengetahui apa yang sudang aku rasakan. Aku tidak bisa mengelak lagi, sebab dia adalah sahabat sekaligus orang yang aku jadikan tempat aku curhat selama ini. Dan apa yang aku predeksikan ternyata benar, Jeng Vina kemudian bertanya lagi yang langsung pada topik yang sebenarnya aku rasakan.
“Sebenarnya kamu ada rasa gak sih sama dia?, ah! Sudahlah ngaku aja, teman-teman pada ngomongin kamu sama dia. Sebenarnya kamu itu ada apa dengan dia. Tidak ada rasa atau malah ada apa-apa sama dia, Hayo!?”, gaya wawancara Jeng Vina.
“Ya, Oke Jeng!, aku cerita sekarang, tapi sebenarnya aku tidak ingin cerita pada siapapun. Ini adalah komitmen yang aku ikrarkan, namun berhubung yang bertanya adalah Jeng Vina, orang yang masih aku percayai, semoga aja ini menjadi yang terbaik”
Kenapa ya Jeng tiba-tiba rasa itu hadir tuk yang kedua kalinya dalam hidupku, padahal rasa itu telah kubuang jauh-jauh.
Aku trauma Jeng……… ????
Hehehehe,,,, gak usah trauma De’, aku janji gak akan mengecewakanmu. Benar atau tidak, yang jelas aku gak gitu tau. Tapi yang jelas ini adalah CERPENMU dalam perjalanan CINTAKU...
”SEMOGA KITA BAHAGIA..... BILANG JUGA MA JENG VINA, MOHON DO’ANYA”
Read more

0 AKU YANG TERDZZZOLIMI

Menjenuhkan memang hari ini, tulang rusuk sudah terasa keras layaknya batu, perlahan dagu juga terebahkan ke tangan. Mata sudah tak sunggup lagi untuk di angkat, semua terjerumus dalam sebuah lamunan masa lampau. Indah nian lingkaran kehidupan, tak terasa sudah tua renta, retakan tulang pada sum-sum sudah memecahkan buih ini. Alam raya bersinar, namun buram terlihat.

Siapa tau kilauan matahari membuat terbelenggu, selalu takut menunggu datangnya pagi. Misterius layaknya mistikus kehidupan. Rangkaian bunga kematian tersugukan dalam dunia maya. Malam adalah beban menghempaskan kerisauan, karena adanya adalah kesendirian. Tidak ada benda mati yang menemaninya. Borok nabi Luth masih ada yang mau menemuinya memberikan makanan. Namun, jelek keriput wajahnya banyak orang enggan melihatnya apalagi menyapanya.

Wajahnya bak desiran pasir berceceran, hilang ketika angin berhembus. Lucut satu persatu kulit hitamnya, warna putih timbul. Bintik-bintik tul-tul tak terhindarkan. Wajahnya berbedak kegalauan, tinta hitam tak menyeluruh. Tulisan saja menjadi yang terdholimi. Bukan di kulit yang tercabik-cabik melainkan dipikirannya yang tak terterka.

Malam menyapanya, senyum giginya adalah gergaji besi pencabik kerasnya besi. Cukup kegelapan yang sanggup menghadapi dan mengajak bicara, pada saat itu wujudnya adalah sebuah halimun, manusia yang tak terlihat. Hitam pekat pikirannya kalahkan keluhan batu Nisan. Putihnya matanya juga berhaluan pada kain kafan. Hah itukan sebuah ilusi ketuaan, bukannya keringnya dedauanan pernah hijau, dan menjadi pilihan orang untuk dimakan, meski tuanya akan dibakar bahkan dibuang menjadi sampah. Kehijauan itu tak sendiri, batang-batang pepohonannya selalu mampu menundukkan kepalanya untuk menahan reruntuhan. Akar-akar serabutnya mencari mangsa bawah tanah untuk bisa mengembalikan kehidupannya. Kerentaannya tak akan sanggup untuk selalu hidup terdiam. Disela kesibukan sang pohon manusia, bersama-sama menanamkan hunusan pedangnya. Pohon adalah benda mati yang selalu dimanfaatkan.
***
“Pak boleh tanya dimana sudut desa ini” tegas seorang anak Muda. “Ada apa nak?” Jawab bapak itu tidak mendengar ucapan sang Anak. “Ujung desa pak ?” tegasnya. “Oo..!, desa ini tak berujung, namun bersambung terus karena ini adalah awal perkampungan nak,.” Jawabnya. Orang tua yang lagi memikul tumpukan kayu-kayu hutan yang baru ditebang. Bapak itu memang asli warga sekitar Desa Rempulawang. Desa yang dekat hutan lindung. Desa yang mayoritas orangnya, masih tradisionalis. Kompor tidak ada apa lagi tabung gas.
Anak kembali bertanya “Pak, kalau kantor desanya mana?”. Berusaha mengalihkan pembicaraan. “Di ujung sana, nak!”, ucapnya sambil menunjukkan tangan kanannya kearah utara. “Ya sudahlah pak, makasih ya”. Lirih suaranya menandakan kebingungan. Bapak itu meninggalkannya sendirian. Sambil melewati jalan yang juga belum teraspal. Kakinya terpincang-pincang karena kesakitan. Sepertinya tidak satupun masyarakat desa itu terlihat menggunakan sandal. Lembaran kakinya terpahat goresan berwarna kelabu. Anak yang sudah linglung akan arah hidupnya ini menghaluskan nafasnya, berseru seakan-akan menyesakkan.

Anak yang biasa akrab dipanggil Moyo ini mengangakan pikirannya. Tolonglah aku Tuhan tuk bebas dari kehidupan yang fana ini. Moyo kebingungan berada di tempat yang sebenarnya baru dia datangi. Tangan kanannya tertanda tangan jam. Pilihan wajahnya adalah melihat tangannya. Jam saat itu menunjukkan jam 17.00. “Sebentar lagi, aku akan lihat manusia tanpa perbedaan” Malam sudah mulai menyapa tenggelamnya sang matahari. Suasana desa sudah senyap, lampu teplok menghiasi dinding-dinding rumah. Tanpa dia sadari diapun tidak melihat kantor desa yang sebenarnya dia cari. Perjalannya membuat takut mengangkat tulang kakinya.

Moyo memahat keyakinan. “Aku akan temukan apa yang aku cari”. Bak jawaban yang dia dapatkan dari langit. Suara kecil dari percikan tanah menyapanya. Ada orang berjalan. Saatnya aku bertanya pada dia. “Numpang tanya, pak!, alamat lengkap kantor desa sini di mana ya, pak”. Pertanyaan yang tidak begitu mengharapkan sebuah jawaban. Karena sudah sejak tadi pertanyaan itu di tanyakan kepada beberapa orang yang ditemuinya. Dengan sedikit ekspresi tangan kanan memegang kepala, sedikit mengerutkan dahi hingga terlihat bayang kerutannya. “Nak, coba kamu ikuti jalan setapak ini, belok kiri, di sana nanti terdapat sebuah warung dengan plang bertuliskan “Pos Kamling”, ada jalan setapak masuk ke kanan, lurus, ke kiri kemudian ke kanan, melewati rimbunan pohon bambu. Ke kanan, nah dar sana nanti terlihat Kantornya”. Begitulah jawabannya. Mungkin menurutnya alamat lengkap yang ku maksudkan seperti itu.

Dengan langkah lesu, sembari menghafal berulang-ulang petunjuk alamat tadi, ku ikuti jalan setapak yang tak terawat itu. Di sebelah kanan-kiri jalan masih tumbuh liar semak belukar. Meskipun menghijau, merinding juga kalau perjalanan di gelapnya malam.
“Yach.. sampai juga ke tempat yang aku tuju”. Dengan menghela nafas panjang, sedikit mendongakkan kepala, mencibirkan sudut bibir yang kering.
“Pagi, pak!”. Sapaan pertama terucap memecahkan keheningan pagi. “Pagi juga, nak!, ada yang bisa saya bantu?”. Suara rendah dari sudut bibirnya.

Aku yang terdzalimi,
Aku yang di dzalimi,
Aku yang mendzalimi.
Read more
 
© Sepenggal Taqdir | Design by Blog template in collaboration with Concert Tickets, and Menopause symptoms
Powered by Blogger