Featured

Selamat Datang di http://ghanie-np.blogspot.com Dan Selamat Menikmati Sepenggal Taqdir Dari Anak Kepulauan Ini
Mohon ma'af sebelumnya, sudah lama tidak saya Update, karena masih banyak kesibukan yang harus saya selesaikan.
Sekedar Kata Pengantar :
Kureguk kopi sambil menyelesaikan satu puisi. Kamu di sisiku, menjadi kitab refrensiku. Kubuka halaman hatimu, tak kutemukan kata pengganti yang lebih indah untuk kutulis. Selamat Menikmati...
Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan

0 MENGKAJI KEMBALI SISTEMATIKA FILSAFAT DAN OBJEK KAJIANNYA

SISTEMATIKA FILSAFAT
A.    Ontologi 
Ontologi adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang yang ada. Dalam kaitan dengan ilmu, landasan ontologi mempertanyakan tentang objek yang ditelaah oleh ilmu, bagaimana wujud hakikinya, serta bagaimana hubungannya dengan daya tangkap manusia yang berupa berpikir, merasa, dan meng-indera yang membuahkan pengetahuan.
Objek telaah Ontologi tersebut adalah yang tidak terlihat pada satu perwujudan tertentu, yang membahas tentang yang ada secara universal, yaitu berusaha mencari inti yang dimuat setiap kenyataan yang meliputi segala realitas dalam semua bentuknya. Adanya segala sesuatu merupakan suatu segi dari kenyataan yang mengatasi semua perbedaan antara benda-benda dan makhluk hidup, antara jenis-jenis dan individu-individu.
Dari pembahasannya memunculkan beberapa pandangan yang dikelompokkan dalam beberapa aliran berpikir, yaitu:

1.    Materialisme; Aliran yang mengatakan bahwa hakikat dari segala sesuatu yang ada itu adalah materi. Sesuatu yang ada (yaitu materi) hanya mungkin lahir dari yang ada.

2.    Idealisme (Spiritualisme); Aliran ini menjawab kelemahan dari materialisme, yang mengatakan bahwa hakikat pengada itu justru rohani (spiritual). Rohani adalah dunia ide yang lebih hakiki dibanding materi.

3.    Dualisme; Aliran ini ingin mempersatukan antara materi dan ide, yang berpendapat bahwa hakikat pengada (kenyataan) dalam alam semesta ini terdiri dari dua sumber tersebut, yaitu materi dan rohani.

4.    Agnotisisme ; Aliran ini merupakan pendapat para filsuf yang mengambil sikap skeptis, yaitu ragu atas setiap jawaban yang mungkin benar dan mungkin pula tidak.

B.    Epistemologi 
Objek telaah epistemologi adalah mempertanyakan bagaimana sesuatu itu datang dan bagaimana mengetahuinya, bagaimana membedakan dengan yang lain. Jadi berkenaan dengan situasi dan kondisi ruang serta waktu tentang sesuatu hal. Landasan epistemologi adalah proses apa yang memungkinkan mendapatkan pengetahuan logika, etika, estetika, bagaimana cara dan prosedur memperoleh kebenaran ilmiah, kebaikan moral dan keindahan seni, serta apa definisinya. Epistemologi moral menelaah evaluasi epistemik tentang keputusan moral dan teori-teori moral.
Dalam epistemologi muncul beberapa aliran berpikir, yaitu:

1.    Empirisme; Yang berarti pengalaman (empeiria), dimana pengetahuan manusia diperoleh dari pengalaman inderawi.

2.    Rasionalisme; Tanpa menolak besarnya manfaat pengalaman indera dalam kehidupan manusia, namun persepsi inderawi hanya digunakan untuk merangsang kerja akal. Jadi akal berada diatas pengalaman inderawi dan menekankan pada metode deduktif.

3.    Positivisme; Merupakan sistesis dari empirisme dan rasionalisme. Dengan mengambil titik tolak dari empirisme, namun harus dipertajam dengan eksperimen, yang mampu secara objektif menentukan validitas dan reliabilitas pengetahuan.

4.    Intuisionisme ; Intuisi tidak sama dengan perasaan, namun merupakan hasil evolusi pemahaman yang tinggi yang hanya dimiliki manusia. Kemampuan ini yang dapat memahami kebenaran yang utuh, yang tetap dan unik.
 
C.    Aksiologi 
Aksiologi adalah filsafat nilai. Aspek nilai ini ada kaitannya dengan kategori: (1) baik dan buruk; serta (2) indah dan jelek. Kategori nilai yang pertama di bawah kajian filsafat tingkah laku atau disebut etika, sedang kategori kedua merupakan objek kajian filsafat keindahan atau estetika.
Etika ; Etika disebut juga filsafat moral (moral philosophy), yang berasal dari kata ethos (Yunani) yang berarti watak. Moral berasal dari kata mos atau mores (Latin) yang artinya kebiasaan. Dalam bahasa Indonesia istilah moral atau etika diartikan kesusilaan. Objek material etika adalah tingkah laku atau perbuatan manusia, sedang objek formal etika adalah kebaikan atau keburukan, bermoral atau tidak bermoral.
Moralitas manusia adalah objek kajian etika yang telah berusia sangat lama. Sejak masyarakat manusia terbentuk, persoalan perilaku yang sesuai dengan moralitas telah menjadi bahasan. Berkaitan dengan hal itu, kemudian muncul dua teori yang menjelaskan bagaimana suatu perilaku itu dapat diukur secara etis. Teori yang dimaksud adalah Deontologis dan Teologis.

a.    Deontologis.
Teori Deontologis diilhami oleh pemikiran Immanuel Kant, yang terkesan kaku, konservatif dan melestarikan status quo, yaitu menyatakan bahwa baik buruknya suatu perilaku dinilai dari sudut tindakan itu sendiri, dan bukan akibatnya. Suatu perilaku baik apabila perilaku itu sesuai norma-norma yang ada.

b.    Teologis
Teori Teologis lebih menekankan pada unsur hasil. Suatu perilaku baik jika buah dari perilaku itu lebih banyak untung daripada ruginya, dimana untung dan rugi ini dilihat dari indikator kepentingan manusia. Teori ini memunculkan dua pandangan, yaitu egoisme dan utilitarianisme (utilisme). Tokoh yang mengajarkan adalah Jeremy Bentham (1742 – 1832), yang kemudian diperbaiki oleh john Stuart Mill (1806 – 1873)
.
c.    Estetika
Estetika disebut juga dengan filsafat keindahan (philosophy of beauty), yang berasal dari kata aisthetika atau aisthesis (Yunani) yang artinya hal-hal yang dapat dicerap dengan indera atau cerapan indera. Estetika membahas hal yang berkaitan dengan refleksi kritis terhadap nilai-nilai atas sesuatu yang disebut indak atau tidak indah
.
    Dalam perjalanan filsafat dari era Yunani kuno hingga sekarang muncul persoalan tentang estetika, yaitu: pertanyaan apa keindahan itu, keindahan yang bersifat objektif dan subjektif, ukuran keindahan, peranan keindahan dalam kehidupan manusia dan hubungan keindahan dengan kebenaran. Sehingga dari pertanyaan itu menjadi polemik menarik terutama jika dikaitkan dengan agama dan nilai-nilai kesusilaan, kepatutan, dan hukum.
OBJEK FILSAFAT
 
Isi filsafat ditentukan oleh objek apa yang dipikirkan, objek yang dipikirkan oleh filsafat ialah segala yang ada dan yang mungkin ada. Jadi luas sekali.

Objek filsafat itu bukan main luasnya”, tulis Louis Katt Soff, yaitu meliputi segala pengetahuan manusia serta segala sesuatu yang ingin diketahui manusia. Oleh karena itu manusia memiliki pikiran atau akal yang aktif, maka manusia sesuai dengan tabiatnya, cenderung untuk mengetahui segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada menurut akal pikirannya. Jadi objek filsafat ialah mencari keterangan sedalam-dalamnya.

Namun secara universal objek filsafat ada dua yaitu :

a.    Objek Materia
Tentang objek materia ini banyak yang sama dengan objek materia sains. Sains memiliki objek materia yang empiris; filsafat menyelidiki objek itu juga, tetapi bukan bagian yang empiris melainkan bagian yang abstrak.

b.    Objek Forma,
Kemudian objek forma filsafat tiada lain ialah mencari keterangan yang sedalam-dalamnya tentang objek materi filsafat (yakni segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada)
.
Dari uraian tertera di atas jelaslah, bahwa Objek materia filsafat ialah Sarwa yang ada, yang pada garis besarnya dapat dibagi atas tiga persoalan pokok :

a.    Hakekat Tuhan
b.    Hakekat Alam dan
c.    Hakekat Manusia.

Sedangkan objek forma filsafat ialah usaha mencari keterangan secara radikal (sedalam-dalamnya sampai ke akarnya) tentang objek materi filsafat (sarwa yang ada).

Dalam buku Filsafat Agama; Titik Temu Akal dengan Wahyu karangan Dr. H. Hamzah Ya’qub dikatakan bahwa objek filsafat ialah mencari keterangan sedalam-dalamnya. Di sinilah diketahui bahwa sesuatu yang ada atau yang berwujud inilah yang menjadi penyelidikan dan menjadi pembagian filsafat menurut objeknya ialah :

1)    Ada Umum ; yakni menyelidiki apa yang ditinjau secara umum. Dalam realitanya terdapat bermacam-macam yang kesemuanya mungkin adanya. Dalam bahasa Eropa, ADA UMUM ini disebut “Ontologia” yang berasal dari perkataan Yunani “Onontos” yang berarti “ada”, dalam Bahasa Arab sering menggunakan Untulujia dan Ilmu Kainat.

2)    Ada Mutlak ; sesuatu yang ada secara mutlak yakni zat yang wajib adanya, tidak tergantung kepada apa dan siapapun juga. Adanya tidak berpermulaan dan tidak berpenghabisan ia harus terus menerus ada, karena adanya dengan pasti. Ia merupakan asal adanya segala sesuatu. Ini disebut orang “Tuhan” dalam Bahasa Yunani disebut “Theodicea” dan dalam Bahasa Arab disebut “Ilah” atau “Allah”.

3)    Comologia ; yaitu filsafat yang mencari hakekat alam dipelajari apakah sebenarnya alam dan bagaimanakah hubungannya dengan Ada Mutlak. Cosmologia ini ialah filsafat alam yang menerangkan bahwa adanya alam adalah tidak mutlak, alam dan isinya adanya itu karena dimungkinkan Allah. “Ada tidak mutlak”, mungkin “ada” dan mungkin “lenyep sewaktu-waktu” pada suatu masa.

4)    Antropologia (Filsafat Manusia) ; karena manusia termasuk “ada yang tidak mutlak” maka juga menjadi objek pembahasan. Apakah manusia itu sebenarnya, apakah kemampuan-kemampuannya dan apakah pendorong tindakannya? Semua ini diselidiki dan dibahas dalam Antropologia
.
5)    Etika ; filsafat yang menyelidiki tingkah laku manusia. Betapakah tingkah laku manusia yang dipandang baik dan buruk serta tingkah laku manusia mana yang membedakannya dengan lain-lain makhluk
.
6)    Logika ; filsafat akal budi dan biasanya juga disebut mantiq. Akal budi adalah akal yang terpenting dalam penyelidikan manusia untuk mengetahui kebenaran. Tanpa kepastian tentang logika, maka semua penyelidikan tidak mempunyai kekuatan dasar. Tegasnya tanpa akal budi takkan ada penyelidikan. Oleh karena itu dipersoalkan adakah manusia mempunyai akal budi dan dapatkah akal budi itu mencari kebenaran? Dengan segera timbul pula soal, apakah kebenaran itu dan sampai dimanakah kebenaran dapat ditangkap oleh akal budi manusia. Maka penyelidikan tentang akal budi itu disebut Filsafat Akal Budi atau Logika. Penyelidikan tentang bahan dan aturan berpikir disebut logica minor, adapun yang menyelidiki isi berpikir disebut logica mayor. Filsafat akal budi ini disebut Epistimologi dan adapula yang menyebut Critica, sebab akal yang menyelidiki akal.

Adapun objek Filsafat Islam ialah objek kajian filsafat pada umumnya yaitu realitas, baik yang material maupun yang ghaib. Perbedaannya terletak pada subjek yang mempunyai komitmen Qur’anik.
Dalam hubungan ini objek kajian Filsafat Islam dalam tema besar adalah Tuhan, alam, manusia dan kebudayaan. Tema besar itu hendaknya dapat dijabarkan lebih spesifik sesuai dengan perkembangan zaman, sehingga dapat ditarik benang merah dari perkembangan sejarah pemikiran kefilsafatan yang hingga sekarang. Setiap zaman mempunyai semangatnya sendiri-sendiri
.
Dari keterangan di atas dapat dikatakan bahwa objek filsafat itu sama dengan objek ilmu pengetahuan bila ditinjau secara materia dan berbeda bila secara forma. Sedangkan objek kajian Filsafat Islam itu sendiri mencakup Tuhan, alam, manusia dan kebudayaan.

Read more

0 Pengembangan Ilmu Agama Islam Dalam Perspektif Filsafat Ilmu

 Ajaran Agama Islam Dalam Memandang Perkembangan Ilmu Pengetahuan

Mencari Arti Agama Dan Islam

Agama dalam arti teknis yang dalam bahasa inggris disebut religion, Belanda (religie), arab (ad-din). Indonesia yakni agama itu sendiri. Para filosof, sosiolog, psikolog, teolog, dan yang lainnya telah merumuskan defiisi tentang agama menurut caranya masing-masing. Walaupun betapa mustahul memberikan sebuah definisi yang sempurna tentang agama, namun ada bentuk yang mempunyai cirri khas daripada aktifitas keagamaan.

Adapun untuk mendefinisikan pengertian Islam itu sendiri tampaknya dikalangan para pakar agak mengalami kesulitan, seperti halnya dalam mendefinisikan agama. Banyak diantara para ahli agama Islam mendefinisikan Islam itu, namun nampaknya hanya terbatas dalam kontek penndekatan disiplin cabang ilmu yang digeluti masing-masing. Untuk itu memahami Islam sebagai agama, barangkali akan lebih mengena jika melihat para pemikir kontemporer ini, yang menganggap islam itu sebagai agama rahmatan lil ‘alamin.

Tipologi Pemikiran Islam

            Mengamati perkembangan Islam kontemporer, setidaknya ada lima trend besar yang dominant. Pertama, Fundamentalis, kelompok pemikiran sepenuhnya percaya kepada doktrin Islam sebagai satu-satunya alternative bagi kebagkitan umat manusia.

            Para pemikir yang mempunyai kecenderungan tesebut, Sayyid Quthb, Muhammad Quthb, Al-Maududi, Sayyid Hawa, Awar Jundi, Zainuddin Sardar, dan tokoh seperti Abu Bakar Ba’asyir, Jakfar Umar Thalib, Habib Habsy, di tanah air. Tokoh-tokoh gerakan Islam masuk dalam kelompok ini.

            Kedua, Tradisionalistik (salaf), kelompok pemikir yang berusaha untuk berpegang teguh pada tradisi-tradisi yang telah mapan. Bagi kelompok-kelompok ini, seluruh persoalan umat telah dibicarakan secara tuntas oleh para ulama pendahulu, sehingga tugas sekarang kita hanya menyatakan kembali apa yang pernah dikerjakan mereka, atau paling banter menganalogkan pada pendapat-pendapatnya. Namun demikian, berbeda dengan kaum fundamental yang sama sekali menolak moddernitas dan membatasi al-khulafa’urrasyidin yang empat.

            Pemikiran tokoh-tokoh seperti asy-Syafi’i dan al-Ghazali yang hidup abad pertengahan dianggap telah menyelasaikan persoalan umat Islam sampai akhir zaman. Sedemikian, sehingga pada gilirannya, orang yang mendalami dan mengikuti tradisi ikut mendapat berkah dianggap sebagai tokoh yang patut dijadikan panutan dan dianggap mampu untuk menyelesaikan segala persoalan duniawi maupun ukhrawi.

            Dengan kodisi dan prilaku seperti itu, seperti ditulis Hasan Hanafi, kecenderungan tradisionalisme pada saatnya melahirkan konsekuensi-konsekuensi tertententu yakni:

  1. Eksklusifisme, karena adanya penokohan, bahkan pensakralan individu. Sikap tradisionalistik menggiring terbentuknya sikap-sikap eksklusif yang hanya menghargai dan mengakui kebenaran kelompoknya sendiri dan menolak keberadaan pihak lain.
  2. Subyektifisme, sebagai akibat lanjut dari eksklusifisme. Orang-orang kelompok ini menjadi kehilangan sikap obyektif dalam menilai sebuah persoalan.
  3. Detreminisme, sebagai akibat lanjut dari dua konsekuesi diatas, dimana masyarakat telah tersubordinasi dan terkurung dalam satu warna, mereka terbiasa dalam menerima “sabda” sang panutan dan menganggapnya sebagai sebuah keniscayaan tanpa ada keinginan untuk mengubah apalagi menolak.

Ketiga, Reformistik yaitu kelompok pemikiran yang berusaha mengkonstruksi ulang warisan-warisan budaya islam dengan cara memberi tafsiran-tafsiran baru.

Menurut kelompok ini umat Islam sesungguhnya telah memiliki budaya dan tradisi yang bagus dan mapan. Namun trdisi tersebut harus dibangun kembali secara baru dengan kerangka moderen dan persyaratan rasional agar bisa tetap survive dan bisa diterima dalam kehidupan moderen. Karena itu kelompok ini berbeda dengn kalangan tradisional yang tetap menjaga tradisi masa lalu.

Keempat, Postradisonalistik, yaitu kelompok pemikiran yang berusaha mendekonstruksi warian-warisan budaya Islam berdasarkan standar-standar modernitas.

Para pemikir postradisionalistik tersebut, umumnya adalah terdiri dari pemikir muslim yang banyak di pengaruhi gerakan postrukturalis perancis dan beberapa tokoh postmodernisme lainnya, seperti De Saussure (linguistik), Levi Strauss (antropologi), Lacan (psikologo), Barthes (semiologi), Foucould (epistimologi), Drrida (grammatologi), dan Gadamer (hermeneutika).

Kelima, Modernistic, yaitu kelompok pemikiran yang hanya mengakui sifat rasional ilmiah dan menolak cara pandang agama serta kecenderungan mistis yang tidak berdasarkan nalar praktis.

Menurt kelompok ini, agama dan tradisi masa lalu sudah tidak relevan dengan tuntutan zaman sehingga ia harus dibuang dan ditinggalkan. Karakter gerakan utamanya adalah berpikir kritis dan soal-soal kemasyarakatan dan keagamaan, penolakan terhadap sikap jumud (kebekuan berpikir) dan taqlid.

Yang termasuk dalam kelompok ini adalah para tokoh muslim yang banyak mengkaji dan dipengaruhi pemikiran marxisme (aspek intelektualitasnya dan bukan ideologinya), seperti Kassim Ahmad, Thayyib Tayzini, Abdullah Arwi, Faud Zakariya, Zaki Nadjib Mahmud dan Quanstantine Ziyaq.

Episimologi Dan Paradikma Keterpaduan Iptek Dengan Islam Dalam Persepektif Al-Qur’an Dan Al-Sunah

            Sejarah manusia mulai dapat mencatat bahwa diparuh pertama millennium kedua kaum muslimin mampu menguasai dunia. Abad inilah yang mereka sebut dengan The Middle Ages, yang mempresentasikan masa-masa keterbelakangan dan kegelapan mereka. Dalam paruh kedua dalam millennium kedua, kendali dunia beralih kepihak Barat. Mereka mulai bangkit dari kegelapan cahaya, dari kemandegkan menuju pembebasan, dan dari puritanisme menuju progesifitas. Mereka belajar di universitas islam kemudian menyalin buku-buku karya ilmuwan muslim.

            Sunnatullah (hukum alam) dan logika histories menyatakan bahwa siklus peradaban pada masa datang akan berada di tangan kaum muslimin. Kesiapan kaum muslimin menhadapi tantangan, baik internal maupun eksternal, dalam skala lokal maupun global, harus diwujudkan dalam upaya mengatasi stagnasi dan keterbelakangan yang disebabkan oleh kesalahannya dalam memahami agama dan aplikasinya, sehingga kembali diharapkan obor peradaban dapat berpindah ke tangan kaum Muslimin.

Faktor-Faktor Penyebab Dikotomisasi Pendidikan

            Manusia dilahirkan dalam keadaan kosong dari ilmu pengetahuan. Tetapi Allah memberikan fitrah mencintai pengetahuan dan menyingkapkan apa yang tidak diketahuinya, memberinya alat (washilah) yang memungkinkannya mampu mengenal dirinya dan segala wujud disekitarnya.

            Seorang muslim tidak dibenarkan hidup dalam keadaan putus hubungan dengan ilmu. Manusia tidak seharusnya pernah berpikir mengani dirinya, dan Sang Penciptanya. Dilihat dari sudut pandang cara memulai aktifitas pemikiran tersebut maka dikenal tiga kubu pemikiran agama yaitu: pertama, Kubu Agama, yang memulainya dengan membuka tabir burhan qur'ani dan sunni. Kedua, Kubu Ummu, yang memulainya dengan berpegangan pada burhan insani dan islami. Ketiga, Kubu Islami, yang berpikir secara terpadu yaitu melalui pendekatan burhan qur'ani, sunni dan kauni secara simultan dan utuh. Pengaktegorian tersbut memunculkan dikotomi agama umum, yaitu pembagian atau pengelompokan diantara dua hal yang berlawanan atau saling melawan.

            Kenyataan yang terus berkangsung hingga sekarang ialah bahwa kaum kubu agama masih didominasi cara befikir normative, abstrak dan non empiris sementara kubu umum lebih cenderung berpikir positif, konkret dan empiris. Sebagai konsekuensi dari system budayadan pendidikan iptek yang dikotomis yang memisahkan kubu langit (fskultas-fakultas ilmu agama) dengan kubu bumi (fakultas-fakultas ilmu umum).

Rekonstruksi Paradigma Keterpaduan Iptek dan Islam

            Ilmu yang diseru dan dianjurkan oleh islam merupaka ilmu yang ditunjang oleh argumentasi. Karena itu para ulama tidak menganggap taqlid sebagai ilmu, sebab taqlid adalah mengikuti pendapat orang lain tanpa argumrntasi. Hal ini jelas dilarang oleh Islam.

            Menurut Islam ruang lingkup ilmu ada tiga yaitu aspek metafisika, aspek humaniora, dan aspek material. Ajaran al-Qur'an dan as-Sunah berkenaan dengan aktiftas sebgai berikut: pembentukan penalaran ilmiah, penguasaan bahas aasing, pemanfaatan metode statistic, manajemen dan perencanaan, pengakuan logika eksperimental dalam urusan dunia, pertimbangan pendapat pakar dan ilmuwan, pengambilan segala yang bermanfaat.

Hubungna Agama Dengan Ilmu Pengetahuan Sosial.

            Dunia saat ini telah memasuki era globalisi dengan dampak positif dan negatifnya. Dampak negative misalnya terjadi dislokasi, dehumanisasi, sekuralisasi, dsb. Dampak positifnya terbukanya berbagai kemudahan dan kenyamanan baik dalam lingkungan ekonomi (ekonosfer), informasi (infosfer), teknologi (teknosfer), social (sisosfer), dan psikologi (psikososfer).

            Namun demikian, ilmu pengetahuan social yang dinilai sudah kewalahan dalam memecahkan maslah social yang timbul di era globalisasi. Hal ini disebabkan karena dasar dan prinsip yang dijadikan landasan dalam ilmu pengtahuan social berasal dari filsafat barat yang betumpu pada logika rasional dan cara berfikir empiris.

            Upaya mengatas ikebutuhan dari ilmu pengetahuan social, agama diharap dapat memberikan pengarahan dan perspektif baru, sehingga kehdiran agama terasa manfaatnya oleh penganut agam.

Pandanag Islam Tentang Ilmu Sosial

            Islam lebih banyak memperhatikan aspek kehidupan ritual. Islam adalah agam yang menjadikan seluruh bumi sebagai masjid tempat mengabdi kepada Allah. Umat manusia telah berhasil mengkoordinasikan ekonomi, mentat struktur politik, serta membangun peradapaban yang maju untuk dirinya sendiri,tetapi pada saat yang sama kita juga melihat bahwa umat manusia telah menjadi tawanan dari hasil ciptaannya sendiri.

            Dalam keadaan demikian, nampaknya sudah mendesak  untuk memiliki ilmu pngetahuan social yang mampu membebaskan manusia dari berbagai problema tersebut. Ilmu pengetahuan sosial yang dimaksud adalah ilmu pengetahuan yang digali dari nilai-nilai agama. Kuntowijoyo menyebutnya sebagai ilmu sosial porifetik.

Ilmu Sosial Ynag Bernuansa Islam

            Menurut Kuntowijoyo kita butuh ilmu sosial profetik yaitu ilmu sosial yang tidak hanya menjelaskan dan mengubah fenomena sosial, tetapi juga memberi petunjuk kearah mana perubahan itu dilakukan. Yaitu perubahan yang didasarkan pada tiga hal yaitu, cita-cita kemanusiaan, liberasi, dan transendensi.

            Nilai-nilai kemanusiaan, liberalisasi dan transendensi dijelaskan secara singkat sebagai berikut: bahwa tujuan humanisasi itu adalah memanusiakan manusia dari proses dehumanisasi. Liberalisasi tujuannya adalah pembebasan manusia dari kungkungan teknoligi dan pemerasan kehidupan. Tujuan dari transendesi adalah menumbuhkan dimensi ttransendental dalam kebudayaan.

            Dengan ilmu sosial profetik ini, kita ingin melakukan reorentasi terhadap made of thought dan made of inquirity. Yaitu suatu pandangan bahwa sumber ilmu bukannya berasal dari rasio dan empiri sebagaimana yang dianut dalam masyarakat barat, tetapi juga dari wahyu.

            Dengan ilmu social yang demikian, maka umat Islam akan dapat meluruskan gerak langkah perkembangna ilmu pengetahuan yang terjadi saat ini dan juga dapat meredam berbagai keruduhan sosial dan tindakan kriminal lainnya yang saat ini banyak mewarnai kehidupan.

Pandangan Kaum Filosof Terhadap Islam

Memahami Islam Secara Komperhensif.

Untuk memahami Islam memang tidak dapat hanya dengan mengandalkan satu pendekatan. Memahami dari sudut tafsir al-Qur'an saja, tanpa mempertimbangkan hal-hal yang lain, maka keislamannya dianggap parsial. Demikian juga dalam mengamalkan Islam.

            Untuk memahami Islam secara benar dapat ditempuh dengan cara: pertama, Islam harus dipelajari dari sumber yang asli yaitu al-Qur'an dan as-Sunah. Kedua, Islam harus dipelajari secara integral sebagai suatu kesatuan yang bulat. Ketiga, Islam perlu dipelajari dari kepustakaan yang ditulis oleh ulama besar, kaum zu'ama dan sarjana-sarjana Islam. Keempat, memahami Islam tidak boleh hanya dihampiri dari satu pendekatan seperti memandang Islam dari segi tasawuf saja yang akan mengakibatkan bahwa konsekuensi diluar itu kurang dianggap penting.

            Dalam pendekatan pemahaman Islam menurut A. Mukti Ali, pertama yaitu ketahui Allah yang menjadi pusat penyambahan, kedua, pelajari al-Qur'an, ketiga, pelajari pribadi Nabi Muhammad, keempat, teliti situasi dimana Nabi Muhammad bangkit, kelima, pelajari orang yang terkemuka seperti sahabat Nabi.

Pemikir Islam Tidak Pernah Berhenti.

            Pemikiran Islam sebenarnya tidak berhenti setelah al-Ghazali mengkritik filsafat. Dari abad kea bad pemikiran pendidikan Islam terus berkembang bahkan hingga saat ini. Pemikir atau filusuf besar Muslim satu abad setelah al-Ghazali seperti Syihab ad-Din Suhrawardi al-Muqtul (Syekh al-Isyraq), Nashir ad-Din Thusi, sorang astronom pendiri observatorium di Marghah. Thusi mencoba menghidupkan kembali filsafat peripatetic avicenian.

            Pada abad 14 sampai 16 pemikir handal filsafat seperti al-'Amuli, Ibn Turkah dan Jalal ad-Dawani. Mulla Shadra telah medirikan mazhab tersendiri sebagai konsekuensi sinteisnya itu yang biasanya disebut teosofi transenden.

            Abad 18 sampai 19bermunculan filosof dari Iran seperti Ahmad al-Asha'ri da Mulla Hadi Sabzawari. Karya-karya itu sendiri sulit untuk kita akses, bisa karena masih berupa manuskrip atau tidak diedarkan secara intrnasional. Kita masih membutuhkan buku-buku pengantar yang bermutu tentang para pemikir musil pasca Ibn Rusyd.

            Kendala untuk memahami pemikir kontemporer Muslim ini sebagian bersifat linguistic karena ditulis dalam bahasa Persia. Tidak terlalu banyak filosof muslim yang menulis dengan bahas Arab. Kebanyakan kita harus menunggu sampai karya-karya tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris atau Indonesia untuk bisa memahami dengan baik. Keperluan kita kepada pemikiran mereka sangat besar karena sebagai pemikir masa kini tentu pemikiran mereka diarahkan pada bagaimana menjawab isu-isu dan tantangan  kontemporer yang muncul dari dunia moderen.

            Selain itu keperluan kita pada kepada pemikiran Islam kontemporer ini tentu saja terdorong oleh globalisasi, banyak sekali permasalahan moderen namun belum mendapat jawaban yang memuaskan dari kaum intelektual negri kita.

Pandangan Orentalis Terhadap Islam.

Pengertian Orentalis.

            Orentalisme adalah studi Islam yang dilakukan oleh orang-orang barat. Secara bahasa orentalisme berasal dari bahasa "orient" yang artinya timur. Secara etnologis berarti "bangsa-bangsa dari Timur" dan secara geografis bermakna hal-hal yang bersifat Timur yang sangat luas ruang lingkupnya.

            Kata "isme" berarti paham. Jadi orentalisme adalah suatu paham atau aliran yang menyelidiki hal-hal yang berkaitan bangasa-bangsa di Timur.

Latar Belakang Munculnya Orentalisme.

            Munculnya orentalisme antara lain akibat perang salib atau ketika dimulainya pergesekan politik dan agama antara Islam dan Kristen Barat. Factor lainnya dalah orentalisme muncul untuk kepentingan penjajahan Eropa terhdap Negara Arab, Islam di Timur, Afrika Utara dan Asia Tenggara.

Dogma Orentalisme.

Menurut Amin Rais, sekurang-kurangnya ada enam dogma orentalis yaitu, pertama, ada perbedaan mutlak dan perbedaan sistematik antara Barat yang rasional, maju, manusiawi, supervisor dengan Timur yang sesat, irrasional, terbelakang dan inferior. Kedua, abstraksi dan teorisasi tentang Timur lebih banyak didasarkan pada teks-teks klasik, dan hal ini lebih diutamakan daripada bukti-bukti nyata dari masyarakat Timur yang konkret dan riil. Ketiga, Timur dianggap lestari (tidak berubah-ubah), seragam, dan tidak sanggup mendefinisikan dirinya. Keempat, pada dasarnya Timur itu merupakan sesuatu yang perlu ditakuti, atau sesuatu yang perlu di taklukkan. Kelima, al-Qur'an bukanlah wahyu Ilahi, melainkan hanyalah buku karangan Nabi Muhammad. Keenam, keshahihan atau otentisitas semua hadis yang harus diragukan.

Tujuan Orentalis.

            Secara garis besar tujuan itu terbagi tiga yaitu: 1) untuk kepentingan penjajahan, 2) untuk kepentingan agama mereka, 3) untuk kepentingan ilmu pengetahuan.

            Untuk kepentingan penjajahan tergambar dari peneleitian yang tujuannya untuk melemahkan perlawanan umat Islam terhadap Belanda serta mengobrak-abik pertahan dan persatuan kaum Muslim dengan politik belah bambunya. Untuk kepentingan agama ingin menguasai Negara Muslim menjadi berlatar belakang Kristen. Untuk kepentingan ilmu pengetahuan, memang para orentalis berasal dari para intelek dan sarjana yang serius mengkaji masalah-masalah ketimuran. Untuk kepentingan ilmu pengetahuan, menghasilkan kesimpulan yang netral atau fair tentang Islam skalipun demi kenetralan ilmu mereka juga memberikan kesimpulan yang kurang fair tentang Islam.

Pro Kontra Terhadap Orentalisme.

            Diantara mereka kaum muslimin ada yang secara emosional menyatakan bahwa orang islam yang mempelajari tulisan karya orentalis termasuk antek zionis. Mereka berargumen bahwa orentalisme bersumber pada ide-ide kristenisasi yang menurut Islam sangat merusak dan bermaksud menyerang benteng pertahanan Islam dari dalam.

            Pandangan negative dari Ahmad Abdul Hamid Ghurab mengenai karakter orentalisme yaitu, pertama, orentalisme adalah suatu kajian yang mempunyai ikatan yang sangt eart dengan kolonialisme. Kedua, orentalisme merupakan gerakan yang mempunyai ikatan yang sangat kuat dengan kristenisasi. Ketiga, orentalisme merupaka kajian gabungn yang kuat antara kolonialisme dengna gerakan kristenisasi yang validitas ilmiah dan obyektifitasnya tidak dapat dipertanggung jawabkan secara mutlak. Keempat, orentalisme merupakan betuk kajian yang dianggap paling potensial dalam politik Barat untuk melawan Islam.

            Maryam Jamilah menyatakan bahwa orentalisme tidak sama sekali buruk. Mereka secara jujur mengkaji Islam. Tanpa mereka, banyak diantara pengetahuan berharga dalam buku Islam kuno yang akan hilang tanpa bekas atau tidak terjamah orang.

            Yang paling jelek diantara mereka adalah para orentalis yang mencoba memberikan saran kepada kita tentang bagaimana seharusnya kita memecahkan persoalan-persoalan dan apa yang kita lakukan kepada agama kita. Menurud Said, orentalisme bukan sekedar wacana akademis tetapi juga memiliki akar-akar politis, ekonomis dan bukan religius.

Semua kepentingan orentalisme ini secara implisit juga bersifat rasis. Dan ini tercermin dalam slogan missi pembudayaan terhadap dunia Timur "yang terbelakang" jika tidak "primitif".

Beberapa Contoh Orentalis.

H. A. R. Gibb

            Pendapat Gibb adalah ia menyatakan bahwa " Islam is indeed much more than a system of theology, it is complete civilization" (Islam sesunggunhnya lebih dari satu system teologi, ia dalah peradaban yang sempurna).

            Tetapi menurut Amin Rais, pada zaman moderen peran Islam dalam kehidupan social pasti akan sirna.

 

Wilfred Cantwell Smith

            Menurutnya perkembangan yang paling mengembirakan dalam dunia Islam sedang dialami oleh Islam di India dan turki. Islam sedang terbentu-bentur di samudra Hindunya India, dan sampai sekarang pun tetap jadi minoris yang keadaannya sangat memprihatinkan.

Montgomery Watt

            Analisanya cukup berbesar jiwa mau mengakui bahwa Islam bisa memiliki peranan besar di dunia ini dalam masa mendatang. Namun cepat dia menambahi bahwa Islam harus bersedia mengakui asal usulnya. Logika selanjutnya adalah umat Islam supaya mau melapaskan al-Qur'an kalau ingin memiliki peranan dimasa mendatang.

Gustave Von Grunebaum

            Ia menyatakan bahwa peradaban Islam tidak memiliki aspirasi-aspirasi primer seperti peradaban lainnya. Cirri peradaban Islam adalah anti kemanusiaan. Selain itu Islam tidak punya etika formatif dan kekurangan kesegran intelaktual. Kaum muslim tidak bisa maju, tidak ilmiah, tidak obyektif, tidak kreatif dan otoriter.

            Islam ditangan Von Grunebaum adalah Islam yang direduksi dan ditempeli sifat-sifat negative yang bisa dikhayalkan oleh Grunebaum.

Studi Islam Para Orentalis.

Studi yang dilakukan para orentalis berangkat dari paradikma brfikir bahwa Islam adalah agama yang bisa diteliti dari sudut mana saja dan dengan kebebasan sedemikian rupa. Studi yang mereka lakukan meliputi seluruh aspek ajaran Islam seperti sejarah, hukum, teologi, Qur'an, Hadist, tasawuf, bahasa, politik, kebudayaan dan pemikiran.

Sebagai contoh David Power pernah meneliti sedalam-dalamnya ayat-ayat al-Qur'an sehingga memunculkan kesimpulan al-Qur'an tidak sempurna antara lain karena tidak adil membagi waris antara laki-laki dan perempuan. Joseph Schatht pernah meneliti masalah Hadist sedemikina rupa sehingga pembaca tergiring ke kesimpulan bahwa hadist tidak layak menjadi sumber hukum.

Orentalis dan Islamis

            Pengkajian Islam oleh orang-orang bukan Islam terus dilakukan bahkan makin intensif. Pengkajian itu masih di dominasi oleh para pemikir barat. Hanya kalau dahulu para peneliti Islam disebut orentalis maka sekarang disebit Isalamisis.

            Memang terdapat perbedaan antara keduanya. Orentalis lebih kental nuansa politis dan tendensi kecurigaannya terhadap Islam. Islamisis lebih bersahabat. Kajiannya lebih bersifat ilmiah daripada penyelidikan demi kepentingan imperialisme.

            Esposito amat produktif menulis kajian Islam. Kajiannya berusaha mengungkapkan fakta seobyektif mungkin, nyaris tanpa komentar yang miring. Kekayaan data dan fakta menjadi cirri kajian mereka dalam mengkaji Islam.

Pengembangan Ilmu Agama Islam Dalam Perspektif Filsafat Ilmu

Memahami Islam Dengan Pendekatan Filsafat.

Ada beberpapa pendekatan ilmiah dalam memahami Islam. Dalam pendekatan ilmiah ini pembahasan lebih berorentasi pada aspek Islam aktual dan bukan Islam normative. Hukum Islam sebagai jalinan nilai-nilai Islam dapat diteliti secara filsafati. Manusia dengan menggunakan penalarannya secara positif mampu menggunakan akalnya sebagai karunia terbesar dari Allah SWT.

Pendekatan filsafat dalam memahami Islam bertolak dari asumsi bahwa Islam adalah agama berdimensi fisik dan metafisik. Metafisik dimaksudkan bahwa Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah. Titik sentral pengkajian filsafat dan memahami agama berangkat dari masalah ketuhanan.

Pendekatan filsafat dalam memahami kebenaran agama berusaha memikirkan dasar-dasar agama sehingga dapat memberi penjelasan yang dapat diterima akal kepada orang yang tidak percaya kepada wahyu dan hanya berpegang pada pendapat akal saja.

Antara perasaan keagamaan dan pemahaman tentang agama terdapat perbedaan. Perasaan keagamaan tidak berdasar logika, melainkan pada kepercayaan. Kepahaman pada logika memberikan kepuasan pada perasaan. Filsafat membahas masalah ketuhanan berdasarkan pada pencarian rasional tentang wujud Tuhan.

Argument induktif tentang eksistensi Tuhandapat ditari dari data-data misalnya bahwa alam ini ada dan keberadaannya telah menimbulkan makhluk-makhluk diatasnya dapat berinteraksi satu sama lain.

Masalah Tuhan dalam sebuah memang peran utama. Apabila konsep ketuhanan sebuah agama benar maka ajaran agama tersebut pasti benar. Sebaliknya bila konsep ketuhanan sebuah agama salah maka ajaran agama itu pasti salah.

Masalah kepercayaan dalam filsafat telah menimbulkan rasio sebagai pusat kepercayaan. Ada yang meyakini ide sebagai pusat segala dari yang ada. Ada juga yang menyatakan bahwa materi sebagai pusat kepercayaan. Dari sini muncul tiga aliran besar dalam filsafat, yaitu: rasionalisme, idealisme, dan materialisme.

Alasan bahwa kepercayaan merupaka unsur utama dalam agama menurut Pudjawijatna adalah karena kebenaran yang diyakini oleh kaum beragama diberitahukan oleh yang tak dapat berdusta (Tuhan sendiri) atau paling sedikit oleh seseorang yang menerima tugas memberitahukan kebenaran ini kepada umat manusia.

Epistimologi Dalam Perspektif Pemikiran Islam.

            Prinsip ajaran tauhid dalam Islam pada hakekatnya tidak hanya berkaitan dengn konsep teologi, tetapi juga meliputi konsep kosmologi, antropologi, aksiologi, dan termasuk didalamnya adalah epistimologi. Substnsi tunggal artinya tidak terbagi-bagi. Maka tauhid berarti proses kesatuan dari keanekaragaman yang ada dalam realitas kehidupan.

            Perspektif tahuid dalam islam dalam perkembangannya, mengalami penggerusan dan pergeseran. Pada pemerintahan Abasiyah, dibawah kepemimpinan Al-Makmun, penerjemahan buku-buku Yunani terutama filsafat, mengalami pertumbuhan yang mengesankan. Sehingga pemerintahan akan membayar terjemahan dengan harga mahal. Pemikiran islam kemudian yang ada hanyalah publikasi besar-besaran terhadap pemikiran Yunani, sehingga pemikiran Islam bergeser manjadi dualisme yang dikotomis.

            Akibatnya perspektif tuhid dalam pemikiran Islam hanya terbatas pada pandangan teologis dan lebih bermakna angka, sehingga Tuhan itu satu, bukan dua apalagi tiga. Dualisme dikotomis menjadi landasan setiap pemikiran Islam kemudian ilmupun dibagi menjadi dua. Ilmu agama dan ilmu non agama, ilmu duniawi dan ukhrawi, ilmu syariah dan non syariah, dan ilmu lahir dan ilmu batin.

            Fanatisme kesukuan yang sempit seringkali deperalat untuk mengukuhkan suatu kekuasaan, sehingga permusuhan, peperangan, dan pertumpahan darah tidak bisa dihindari lagi. Kaerna itu usaha untuk keluar dari krisis multi dimensi harus segera ditemukan. Jika tidak, maka krisis multi dimensi ini akan mengancam eksistensi umat Nabi Muhanmmad.

            Usaha untuk keluar dari krisis itu dilakukan dalam dua tahap. Pertama, perbaikan akidah dengan menegaskan adanya system ketuhanan tauhid demi menggantikan system ketuhanan  yang lama. Kedua, dilakukan sebuah penataan struktur masyarakat dengan menetapkan peraturan-peraturan dalam syariat agama.

Epistimologi Islam Integratif.

            Secara keagamaan, dalam Islam dikenal adanya tiga tahapan yaitu: Iman, Islam, dan Ikhsan. Dalam tahap Iman seseorang meyakini dan mempercayai sepenuhnya kehadiran Tuhan. Kemudian memasuki tahan Islam dan terakhir taham Ikhsan dalam aktualisasinya.

            Tahap Iman berkembang dalam ilmu ketuhanan dan ilmu yang menjelaskan hakikat sesuatu yang ada. Tahapan Islam (syariah) yang menerpakan prinsip ibadat dan muamalat, berkembang dalam ilmu social, kebudayaan dan Iptek yang terkait dengan manusia dan alam. Ikhsan berkembang dalam ilmu tasawuf untuk mengembangkan wawasan batin.

            Tahapan syariat dalam Islam mempunyai jangkauan yang luas, meliputi tata hubungan antara manusia dengan Tuhannya, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam.

            Epistimologi tauhid menjadi ilmu sosial, kebudayaan dalam Iptek (islam) tidak terpisahkan dengan filsafat (iman) dan tasawuf (ikhsan). Iptek dipakai untuk mengahdapi dan memecahkan persoalan teknis operasional yang sifatnya konkret dan berdimensi material. Filsafat sebagai basisnya, akan memberi wawasan dan nilai-nilai dalam operasionalisasi Iptek. Sedangkan tasawuf mengantarkan seseorang masuk dalam dimensi trasendental sebagai bagian dari perwujudan iman dan pengabdian diri kepada Tuhan.

            Karena itu ilmu pengetahuan Islam merupakan keastuan antara Filsafat (Iman), ilmu dan teknologi (Islam), dan tasawuf (Ihsan) sebagai manifestasi kesatuan religius untuk meneguhkan kemanusiaan dan menegakkan moralitas serta spriritualitas. Dualisme dikotomis pendidikan yang masih dikembangkan dalam masyarakat Islam, dengan memisahkan antara pendidikan umum dan pendidikan agama pada hakikatnya tidak senafas dengan hakikat ilmu pengetahuan Islam.

Al-Qur'an Dan Prinsip Epistimologi.

            Al-Qur'an sendiri menegaskan bahwa ada tiga daya ruhaniyah yang menjadi sarana untuk memahami suatu kebenaran, yaitu pikiran (al-fikr), akal (al-aql), dan hati nurani (al-qalb al-af'idah). Proses pemahaman dengan menggunakan sarana ruhaniah dengan kata fikr (pikiran) dipakai dalam konteks alam dan manusia dalam dimensi fisiknya. Sedangkan kata 'aql, dipakai dalam konteks yang lebih luas, dan berkaitan dengan hal-hal yang bersifat konkret, material, spiritual, maupun yang ghaib. Sebutan al-qalb dipakai dalam kaitannya dengan hal-hal yang bersifat ghaib dan spiritual saja.

            Ada tiga instrument yang dipakai dalam al-Qur'an untuk memahami suatu kebenaran yang berjenjang, yaitu: pertama, kebenaran yang berkaitan dengan hal-hal fisik dan material semata-mata sebuah kebenaran yang dapat dipahami dan di kuasai dengan mengguankan rasio. Kedua, kebenaran berdimensi ganda, yaitu material dan spiritual, yang dapat dipahami dengan menggunakan sebuah akal. Ketiga, kebenaran yang sepenuhnya berdimensi ghaib dan inmaterial yang dapat dimengerti dengan menggunakan qalb.

            Tiga hal yang menjadi obyek kajian ilmu, dan ketiganya merupakan kesatuan perwujudan dari tanda-tanda Tuhan yaitu: 1) ayat-ayat Tuhan yang terdapat dalam alam semesta, 2) ayat-ayat Tuhan yang terdapat dalam diri manusia dan sejarah, 3) ayat-ayat Tuhan yang tersurat dalam kitab suci, antara lain al-Qur'an tu sendiri.

            Wawasan al-Qur'an tentang ilmu pengetahuan dalam segala tingkatan pada hakikatnya bercorak tauhid, yaitu kesatuan pandangan yang menegaskan adanya kesatuan system ilmu pengetahuan sebagai hubungan dialektis antara daya-daya ruhaniah manusia dalam usaha memahami ayat-ayat Tuhan, baik yang terkandung dalam alam, manusia, sejarah, maupun dalam kitab suci.

            Wawasan tauhid dalam epistimologi Islam itu sudah barang tentu menuntut suatu metodologi yang memungkinkan wawasan tauhid itu dapat diaktualisasikan secara konkret dalam realitas kehidupan.

            Selajutnya integrasi metodologi tauhid ilmu yang didalamnya memuat suatu kesatuan aspek keislaman, baik yang normative, eskatologi, filosofis dan histories, serta pada semua tahap kislaman akan membangun wawasan tauhid ilmu yang aktual dan kontekstual.

            Iptek sebagian dari kebudayaan. Iptek dan kebudayaan dilihat sebagai produk semata-mata sebagai suatu yang kemudian berdiri sendiri dan terlepas dari manusia. Dampak dari itu semua adalah tidak adanya pengadilan terhadap iptek karena iptek dan kebudayaan secara sendirian tidak pernah dapat melakukan tindakan kriminal. Iptek sebagai proses maka sepenuhnya ia tergantung pada manusia dan melekat pada menusia, tidak pernah berdiri sendiri, dan selalu berada dalam kerangka system yang dibuat oleh penciptanya.

            Kehadiran ilmu pengetahuan islam pada hakikatnya menjadi rahmad bagi kehidupan manusia dan alam seisinya, ilmu pengetahuan islam pada prisipnya berpihak pada pembebasan dan pemberdayaan daya-daya ruhani manusia agar dapat memahami dan mengahyati mengerti dan menjiwai dalam segala jenjangnya menuju pengalaman iman, sebagai dasar untuk memperkuat perannya sebagai hamba Tuhan ('abd Allah) yang diangkat menjadi wakil-Nya (khlaifah Allah).

Read more

0 POSITIFME LOGIS

Positivisme Logis (disebut juga sebagai empirisme logis, empirisme rasional, dan juga neo-positivisme) adalah sebuah filsafat yang berasal dari Lingkaran Wina pada tahun 1920-an. Positivisme Logis berpendapat bahwa filsafat harus mengikuti rigoritas yang sama dengan sains. Filsafat harus dapat memberikan kriteria yang ketat untuk menetapkan apakah sebuah pernyataan adalah benar, salah atau tidak memiliki arti sama sekali.
Tokoh-tokoh yang menganut paham positivisme logis ini antara lain Moritz Schlick, Rudolf Carnap, Otto Neurath, dan A.J. Ayer. Karl Popper, meski awalnya tergabung dalam kelompok Lingkaran Wina, adalah salah satu kritikus utama terhadap pendekatan neo-positivis ini.
Asal dan Gagasan Positivisme Logis
Secara umum, para penganut paham positivisme memiliki minat kuat terhadap sains dan mempunyai sikap skeptis terhadap ilmu agama dan hal-hal yang berbau metafisika. Mereka meyakini bahwa semua ilmu pengetahuan haruslah berdasarkan inferensi logis yang berdasarkan fakta yang jelas. Sehingga, penganut paham ini mendukung teori-teori paham realisme, materialisme naturalisme filsafat dan empirisme.
Salah satu teori Positivisme Logis yang paling dikenal antara lain teori tentang makna yang dapat dibuktikan, yang menyatakan bahwa sebuah pernyataan dapat disebut sebagai bermakna jika dan hanya jika pernyataan tersebut dapat diverifikasi secara empiris. Konsekuensi dari pendapat ini adalah, semua bentuk diskursus yang tidak dapat dibuktikan secara empiris, termasuk di antaranya adalah etika dan masalah keindahan, tidak memiliki makna apa-apa, sehingga tergolong ke dalam bidang metafisika.
Kritik
Para pengkritik Positivisme Logis berpendapat bahwa landasan dasar yang digunakan oleh Positivisme Logis sendiri tidak dinyatakan dalam bentuk yang konsisten. Misalnya, prinsip tentang teori tentang makna yang dapat dibuktikan seperti yang dinyatakan di atas itu sendiri tidak dapat dibuktikan secara empiris. Masalah lain yang muncul adalah dalam hal pembuktian teori. Masalah yang dinyatakan dalam bentuk eksistensi positif (misalnya: ada burung berwarna hitam) atau dalam bentuk universal negatif (misalnya: tidak semua burung berwarna hitam) mungkin akan mudah dibuktikan kebenarannya, namun masalah yang dinyatakan sebaliknya, yaitu dalam bentuk eksistensi negatif (misalnya: tidak ada burung yang berwarna hitam) atau universal positif (misalnya: semua burung berwarna hitam) akan sulit atau bahkan tidak mungkin dibuktikan.
Karl Popper, salah satu kritikus Positivisme Logis yang terkenal, menulis buku berjudul Logik der Forschung (Logika Penemuan Ilmiah) pada tahun 1934. Di buku ini dia menyajikan alternatif dari teori syarat pembuktian makna, yaitu dengan membuat pernyataan ilmiah dalam bentuk yang dapat dipersangkalkan (falsifiability). Pertama, topik yang dibahas Popper bukanlah tentang membedakan antara pernyataan yang bermakna dan yang tidak, namun untuk membedakan antara pernyataan yang ilmiah dari pernyataan yang bersifat metafisik. Menurutnya, pernyataan metafisik tidaklah harus tidak bermakna apa-apa, dan sebuah pernyataan yang bersifat metafisik pada satu masa, karena pada saat tersebut belum ditemukan metode penyangkalannya, belum tentu akan selamanya bersifat metafisik. Sebagai contoh, psikoanalisis pada jaman itu tidak memiliki metode penyangkalannya, sehingga tidak dapat digolongkan sebagai ilmiah, namun jika suatu saat nanti berkembang menjadi sesuatu yang dapat dibuktikan melalui penyangkalan, maka akan dapat digolongkan sebagai ilmiah.


Read more

0 BIOGRAFI DAN PEMIKIRAN IBNU BAJJAH DAN IBNU TUFFAL DALAM FILSAFAT


A. IBN BAJJAH
1. Biografi
Nama lengkapnya adalah Abu Bakar ibn Yahya ibn al sha’ighal tujibi al andulsi al samqusti ibn Bajjah. Ibn bajjah dilahirkan di Saragossa, andalus pada tahun 475 H (1082 M). Ia berasal dari keluarga at-tujib karena itu beliau dikenal sebagai al-tujubi yang bekerja sebagai pedagang emas (Bajjah : Emas).
Selain sebagai filusuf, ibn bajjah dikenal sebagai penyair, komponis, bahkan sewaktu Saragossa berada di bawah kekuasaan abu baker ibn ibrahim al-shahrawi dari daulah bani murabittun ibn bajjah dipercayakan sebagai Wazir . Pada 1118 M/512 H, Saragossa telah ditakluk oleh raja Alfonso yang berasal dari Aragon dan Ibnu Bajjah berhijrah ke Seville, selatan Sepanyol. Di sana, beliau menjalankan tugas sebagai seorang doktor dan banyak menulis tentang ilmu logik.
Kemudian Ibnu Bajjah berpindah pula ke Granada, dan seterusnya ke Afrika Utara iaitu pusat Dinasti Murabithun. Tetapi cara pemikiran dan falsafahnya yang asing di kalangan masyarakat di situ menyebabkan beliau ditangkap apabila tiba di kota Syatibah, Maghribi oleh Amir Abu Ishak Ibrahim Ibn Yusuf Ibn Tasifin yang menuduhnya sebagai murtad dan pembawa bidaah. Oleh kerana Ibnu Rusyd pernah menjadi muridnya, maka Ibnu Bajjah dilepaskan
Ekoran kejadian tersebut, beliau meneruskan perjalanan ke Fez di Morocco. Di sana, beliau mendapat penghormatan yang tinggi di kalangan orang al-Murabithun dan diangkat menjadi menteri oleh Abu Bakar Yahya Ibnu Yusuf Ibnu Tasifin untuk jangka waktu yang panjang.
Kedudukan yang beliau peroleh telah menimbulkan rasa iri hati daripada pelbagai pihak. Akhirnya pada bulan Ramadan 1138 M/533 H, menurut satu riwayat, beliau meninggal dunia akibat diracuni oleh seorang doktor yang bernama Abu al-‘Ala Ibnu Zuhri yang iri hati terhadap kecerdasan dan penguasaan ilmunya . Beliau dimakamkan di samping makam Ibnu ‘Arabi di Fez.
2. Karyanya
Ibnu Bajjah banyak menghasilkan karya dalam pelbagai bidang. Karya asal Ibn Bajjah ditulis dalam bahasa Arab dan diterjemahkan ke dalam bahasa Hebrew dan Latin. Manuskrip asal dan terjemahannya tersimpan di perpustakaan Bodlein, Perpustakaan Berlin dan Perpustakaan Escurial (Sepanyol).
Antara karyanya yang terpenting ialah :
a. Risalah al-Wida’ yang menceritakan tentang ketuhanan, kewujudan manusia, alam dan huraian mengenai bidang perubatan. Buku tersebut dipercayai masih tersimpan di perpustakaan Bodlein.
b. Risalah Tadbir al-Mutawahhid pula mengandungi pandangan beliau tentang bidang politik dan falsafah. Ia lebih menekankan kehidupan individu dalam masyarakat yang disebut Mutawahhid. Risalah Tadbir al-Mutawahhid ini diterjemahkan ke dalam bahasa Sepanyol setelah wafatnya Ibnu Bajjah.
c. Risalah al-Ittisal al-‘Aql Bi al-Insan mengandungi tentang perhubungan akal dengan manusia serta huraian mengenainya.
d. Kitab an-Nafs menerangkan persoalan yang berkait tentang jiwa manusia dengan Tuhan dan pencapaian manusia yang tertinggi daripada kewujudan manusia iaitu kebahagiaan. Persoalan ini banyak dipengaruhi oleh gagasan pemikiran falsafah Yunani dan Ibnu Bajjah banyak membuat ulasan terhadap karya dan hasil tulisan Aristotle, Galenos, al-Farabi dan al-Razi.
3. Filsafatnya
A. Epistimologi
Sebagai tokoh filsafat islam di dunia Barat, ibn bajjah tidak lepas dari pengaruh saudara-saudaranya (filusuf islam di dunia timur) terutama pemikiran al farabi dan ibn sina. Dalam bukunya yang terkenal Tdbir Al Mutawahhid, beliau mengemukakan teori al ittishal, yaitu bahwa manusia mampu berhubungan dan meleburkan diri dengan akal fa'al atas bantuan ilmudan pertumbuhan kekuatan insaniah .
Berkaitan dengan teori ittishal tersebut, ibn bajjah juga juga mengajukan satu bentuk Epistimologiyang berbeda dengan corak yang dikemukakan oleh Al Ghazali di Dunia Islam Timur. Kalau Al Ghazali berpendapat bahwa Ilham adalah sumber pengetahuan yang lebih penting dan lebih dipercaya, maka ibn bajjah mengkritik pendapat tersebut, dan menetapkan bahwa sesungguhnya perseorangan mampu pada puncak pengetahuan dan melebur Akal Fa'al, bila ia telahbersih dari kerendahan dan keburukan masyarakat. Oleh karenanya seseorang sebisa mungkin harus dapat mengasingkan pemikiran, dan jiwa masyarakat yang didasari atas pemenuhan hawa nafsu.
B. Metafisika
Adapun pendapat ibn bajjah mengenai Metafisika, boleh dikatakan hampir sama dengan Al Farabi. Menurut ibn bajjah bahwa segala yang maujud terbagi menjadi Dua :
Bergerak dan yang Tidak Bergerak. Yang bergerak itu adalah Materi yang sifatnya terbatas. Dan gerakan yang terbatas tidak mungkin dari zatnya sendiri. Tatapi sebab gerakan berasal dari kekuatan yang tidak terbatas (wujud) yaitu Akal. Akal memberi gerak kepada jisim.
C. Moral
Tujuan Manusia hidup di dunia ini, kata ibn bajjah, adalah untuk memperoleh kebahagiaan. Untuk itu, diperlukan usaha yang bersumber pada kemauan bebas dan pertimbangan Akal dan jauh dari nafsu Hewani. Lebih jauh ibn bajjah mengelompokkan perbuatan manusia kepada Perbuatan Hewani dan Perbuatan Manusiawi. Watak sejati manusia pada hakikatnya bersifat Intelektual, yang merupakan karakteristik semua bentuk spiritual. Dan hanya “manusia spiritual” inilah yang benar-benar dapat menenyal kebahagiaan. Ibn bajjah menyatakan bahwa kemajuan Intelektual bukanlah semata-mata atas usaha manusia, tetapi disempurnakan oleh Tuhan dengan memasukkan cahaya ke dalam Hati. Pemikiran ibn bajjah tersebut, menurut Al Hanafi nampaknya telah mempengaruhi Immanuel Kant, meskipun Knt telah menambah pemikiran-pemikiran baru yang menyebabkan ia lebih maju dari ibn bajjah .
D. Politik
Dari pengertian Mutawahhid, kadang-kadang orang mengira bahwa ibn bajjah menginginkan seseorang menjauhkan diri dari masyarakat. Tetapi sebenarnya ibn bajjah bermaksud bahwa seorang mutawahhid harus senantiasa berhubungan dengan masyarakat. Maksudnya, hendaklah seseorang mampu menguasai diri dan sanggup mengendalikan hawa nafsu, tidak terseret ke dalam arus perbuatan rendah masyarakat. Dengan kata lain, ia harus berpusat pada dirinya dan merasa selalu bahwa dirinya menjadi contoh ikutan orang, bukan malah tenggelam di dalam arus masyarakat . Tetapi jika masyarakat tidak baik maka seseorang harus menyepi dan menyendiri . Ibn bajjah menyadari bahwa warga memiliki sikap dan bertindak mulia jumlahnya tidaklah banyak. Menurut ibn bajjah orang yang menpunyai sikap mulia ciri-cirinya ialah :
1. Selalu menjaga kesehatan. Untuk itu mereka memerlukan sedikit pengetahuan tentang kesehatan agar dapat merawat diri.
2. Sederhana dalam memenuhi kebutuhan hidup yang menyangkut sandang, pangan, dan tempat tinggal, karena kebutuhan yang demikian bukan tujuan utama bagi kehidupan.
3. Bergaul dengan orang yang berilmudan menjauhi orang-orang yang mementingkan kehidupan duniawi.
IBN THUFFAIL
1. Biografinya
Ibnu Thuffail mempunai nama asli yang bernama Abu Bakr Muhammad bin Abdul Malik bin Muhammad bin Muhammad bin Tufail, Beliau lahir pada dekade pertama abad ke-6 H/ke-12 M di Guadix, propinsi Granada, ia termasuk keluarga dari suku Arab Qais. Setelah beranjak dewasa, Ibnu Tufail berguru kepada Ibnu Bajjah (1100-1138 M), seorang ilmuwan besar yang memiliki banyak keahlian. Berkat bimbingan sang guru yang multitalenta itu, Ibnu Tufail pun menjelma menjadi seorang ilmuwan besar.Pada mulanya ia adalah seorang yang ahli dalam bidang kedokteran, dan menjadi terkenal dibidangnya itu.
Keahlianya dalam bidangnya telah dipraktekkanya di Granada.Kemudian ketenarnya sebagai dokter itu membawa namanya lebih dikenal di dalam pemerintahan, sehinggan dia diambil oleh gubernur Granada menjadi sekretarisnya.Pada tahun 549 H ia dipindahkan menjadi sekretaris pribadi gubernur Ceuta. Keharuman namanya kian semerbak sehingga ia diangkat oleh Abu Ya’qub Yusuf Al-Manshur khalifah daulah Muwahhidin menjadi dokter pribadi merangkap sebagai wazirnya. Dan beliau juga meminta kepada Ibnu Thufail untuk menguraikan buku-bukunya Aristoteles.Untuk memenuhi permintaan tersebut, Ibnu Thuffail menghadapkan Abd Walid Ibn Rusyd kepada khalifah dan mencalonkan untuk pekerjaan tersebut. Al-Walid diterima dengan baik oleh khalifah dan menunaikan pekerjaanya dengan baik .
Selain dikenal sebagai dokter dan filsuf besar, Ibnu Tufail menguasai ilmu hukum dan ilmu pendidikan. Ibnu Tufail pun dicatat dalam sejarah peradaban Islam sebagai seorang penulis, novelis, dan ahli agama.Ibnu Thufail sebenarnya memmpunyai banyak karya, baik dalam bidang filsafat maupun yang lain(fisika dan sastra).Dari sejumlah karyanya yang dinisbatkan kepadanya, diantaranya adalah Risalah fi Asrar al-hikmah al-Masyriqiyah (Hayy ibn Yaqzhan)Rasa’il fi an-Nafs, Biqa’ al-Maskunah wa Al-Ghair al-Maskunah.Selain itu, dia juga memiliki beberapa buku tentang kedokteran, serta risalah yang berisi sekumpulan surat-menyurat yang ia lakukan dengan ibn Rusyddalam berbagai persoalan filsafat.Ibn Rusyd menyatakan bahwa ibn Thufail mempunyai teori-teori yang cemerlang dalam lmu falak.Akan tetapi, semua karya beliau tidak ada yang tersisa, kecuali risalah Hayy ibn Yaqzhan.
Ibnu Tufail juga termasyhur sebagai seorang politikus ulung. Kariernya di bidang politik dan pemerintahan juga terbilang sangat baik. Ia sempat ditahbiskan sebagai pejabat di pengadilan Spanyol Islam. Tak cuma itu, Ibnu Tufail pun dipercaya Sultan Dinasti Muwahiddun menduduki jabatan menteri hingga menjadi gubernur untuk wilayah Sabtah dan Tonjah di Magribi dan sekretaris penguasa Granada.
Ketika usia beliau sudah lanjut, ia meminta berhenti dari jabatanya yang diajukan untuk menduduki jabatan tersebut.Meskipun ibnu Thuffail sudah bebas dari jabatanya, namun penghargaan Abu Ya’kub masih seperti dulu, malahan setelah khalifah Abu Ya’kub meninggal dan diganti dengan oleh putranya Abu Yusuf Al-Mansyur penghargaan itu masih tetap diterima oleh ibnu Thuffail.Ketika ibnu Tuffail meninggal dunia di Maroko pada tahun 581 H(1185 M)Abu Yusuf pun ikut menghadiri pemakaman jenazahnya.
2. Filsafatnya
Inti dari pemikiran ibn tuffail termuat dalm karyanya Hayy Ibn Yaqzhan. Antara akal dan wahyu tidaklah memiliki kontradiksi yang begitu besar. Bahkan keduanya dapat memiliki satu visi dan tujuan yang sama tentang kebenaran. Dan juga akan memiliki titik keindahan bila keduanya dapat digabungkan. Bahwa jalan yang ditunjukkan oleh agama dapat diperoleh dengan intelektualitas manusia, yang cenderung berhasrat untuk terus bertanya dan mencoba menjawab apa yang ada, dan juga oleh wahyu yang dapat dijadikan petunjuk tetap menuju satu kebenaran. Keduanya sama-sama dapat menuju kebenaran, demikian pesan yang ingin disampaikan Ibn Thufail pada kita dalam karya monumentalnya, Hayy Ibn Yaqdzan.
Dalam karyanya ini, Ibn Thufail seperti merasa jengah dengan pertikaian dua proyektor besar dalam proses pencarian kebenaran, filsafat dan wahyu. Pertikaian yang diledakkan oleh al-Ghazali dengan Tahafut al-Falasifah-nya, menentang Ibn Sina dan al-Farabi dengan ajaran Aristotelian mereka. Pertikaian yang pada dasarnya ada pada ketidaksetujuan al-Ghazali yang fokus pada tiga ajaran para filososf, terutama Ibn Sina dan al-Farabi, tentang keabadian alam, penolakan bangkitnya jasmani setelah mati, dan pengetahuan Tuhan yang universal. Ketiga hal yang benar-benar dianggap oleh al-Ghazali sebagai penyalahgunaan rasio untuk menyelewengkan agama.
Pertikaian ini coba didamaikan Ibn Thufail dengan mengatakan bahwa antara keduanya tidaklah jauh berbeda dalam memandang kebenaran yang sama, eksternal dan internal. Pemahaman agama melalui wahyu dan pemahaman agama melalui penalaran, melihat kebenaran dari sisi yang berbeda dengan hakikat yang sama.
1.Dunia
Apakah dunia itu kekal, atau diciptakan dari ketiadaan tas kehendak-Nya?Inilah salah satu masalah penting yang palig menetang dalam filosofis muslim Ibnu Tufail sejalan dengan kemahiran dialektisnya menghadapi masalah itu dengan tepat. Dia tidak menganut slah satu doktrin saingannya, dan dia juga tidak berusaha mendamaikan mereka. Dilain pihak dia mengecam dengan pedas pengikut Aristoteles dan sikap-sikap teologis. Kekekalan dunia melibatkan konsep eksistensi tak terbatas. Eksistensi semacam itu tidak dapat lepas dari kejadian-kejadian yang diciptakan dan tidak mungkin ada sebelum kejadian-kejadian yang tercipta itu pasti tercipta secara lambat laun. Menurut Al-Ghazali, ia mengemukakan bahwa gagasan mengenai kemaujudan sebelum ketidak maujudan tidak dapat difahami tanpa anggapan bahwa waktu itu telah ada sebelum dunia ada, akan tetapi waktu itu sendiri merupakan suatu kejadian tak terpisahkan dari dunia, dan karena itu kemaujudannya mendahului kemaujudan dunia. Segala yang tercipta pasti membutuhkan pencipta. Tidak ada sesuatupun ada sebelum Dia, dan segala sesuatu pasti ada dan akan terjadi atas kehendak-Nya. Antinomi (kontradiksi antar prinsip) ini dengan jelas menerangkan bahwa kemampuan nalar (Kant) ada batasnya dan argumentasinya akan mendatangkan kontradiksi yang membingungkan.
2. Tuhan
Penciptaan dunia yang lambat laun itu mensyaratkan adaya satu pecipta yang mesti bersifat immaterial, sebab materi yang merupakn suatu kejadian dunia diciptakan oleh satu pencipta. Dunia tak bisa maujud dengan sendirinya, pasti dan harus ada penciptanya.Jika Tuhan bersifat material, maka akan membawa suatu kemunduran yang tiada akhir. Oleh karena itu, dunia ini pasti mempunyai pencipta yang tidak berwujud benda, dan karena Dia bersifat immaterial, maka kita tidak bisa mengenali-Nya lewat indera kita atau lewat imajinasi. Sebab imajinasi hanya menggambarkan hal-hal yang dapat ditangkap oleh indera.
3. Kosmologi Cahaya.
Manifestasi kemajemukan dari yang sau dijelaskan dalam gaya Neo-Platonik yang monoton, sebagai tahap berurutan pemancaran yang berasal dari cahaya Tuhan.Proses tersebut pada prinsipnya sama dengan refleksi terus menerus cahaya matahari pada cermin. Cahaya matahari yang jatuh pada cermin menunjukkan kemajemukan. Semua itu merupakan pantulan cahaya matahari, bukan matahari itu sendiri, juga bukan cermin itu sendiri. Hal yang sama berlaku juga pada cahaya pertama (Tuhan) beserta perwujudannya di dalam kosmos.
4. Epistimologi
Jiwa dalam tahap awalnya bukanlah suatu tabula rasa atau papan tulis kosong. Melainkan Imaji Tuhan telah tersirat didalamnya sejak awal, tetapi untu menjadikannya tampak nyata, kita perlu memulai denga pikiran yang jernih tanpa prasangka.
Pengalaman merupakan suatu proses mengenal lingkungan lewat indera. Organ-ogan indra ini berfungsi berkat jiwa yang ada dalam hati. Pengamatan memberi kita pengetahuan mengenai benda-benda yang induktif, dengan alat pembanding dan pembedanya dikelompokkan menjadi mineral, tanaman, dan hewan. Setiap kelompok benda ini memperlihatkan fungsi-fungsi tertentu yang membuat kita menerima bentuk-bentuk atau jiwa-jiwa sebagai penyebab fungsi-fungsi tertentu berbagai benda.Ibnu Tufail akhirnya berpaling kepada disiplin jiwa yang membawa kepada ekstase, sumber tertinggi pengetahuan. Dalam taraf ini, kebenaran tidak lagi dicapai lewat proses deduksi atau induksi, melainkan secara langsung dan intuitif lewat cahaya yang ada didalamnya. Jiwa menjadi sadar diri dan mengalami apa yang tak pernah dilihat mata, didengar telinga, atau dirasa olehhati.
5. Etika
Bukan kebahagiaan duniawi, melainkan penyatuan sepenuhnya dengan Tuhanlah yang merupakan “summum bukmun” (kebaikan tertinggi) etika. Perwujudannya setelah pengembangan akal induktif dan deduktif.Menurut de Boer manusia merupakan perpaduan suatu tubuh jiwa hewani dan esensi non-bendawi, dengan demikian menggambarkan binatang, angkasa, dan Tuhan. Karena itulah pendakian jiwanya terletak pada pemuasan ketiga aspek tersebut. Pertama, ia terikat untuk memenuhi kebutuhan tubuhnya serta menjaganya dari cuaca buruk dan binatang buas. Kedua, menuntut darinya kebersihan pakaian dan tubuh, kebaikan terhadap objek-objek hidup dan tak hidup. Ketiga, yaitu pengetahuan, kekuasaan, kebijaksanaan, kebebasan dari keinginanjasmaniyah.
6. Filsafat dan Agama
Filsafat dilain pihak merupkan bagian dari kebenaran esoteris. Ia berupaya menafsirkan lambang-lambang agama tentang konsep-konsep imaji murni yang berpuncak pada suatu keadaan yang didalamnya terdapat esensi ketuhanan dan pengetahuannya menjadi satu. Persepsi rasa, nalar, dan intuisi merupakan dasar-dasar pengetahuan filsafat. Para nabi pun memiliki intuisi, sumber utama pengetahuan mereka adalah wahyu Tuhan. Pengetahuan nabi didapat secara langsung dan pribadi, sedangkan pengetahuan para pengikutnya didapat dari wasiat.



Read more

1 FALSAFAH METODE MENGAJAR DALAM PENDIDIKAN ISLAM

Pendahuluan
Setiap orang memiliki filsafat walaupun ia mungkin tidak sadar akan hal tersebut. Kita semua mempunyai ide-ide tentang benda-benda, tentang sejarah, arti kehidupan, mati, Tuhan, benar atau salah, keindahan atau kejelekan dan sebagainya.
Prinsip-prinsip yang menjadi dasar dan membentuk falsafah pendididkan Islam, maka patutlah sekarang kitqa bicarakan dari satu segi lain diantara segi-segi pendidikan Islam, yang dimaksud itu adalah segi metode mengajar, teknik dan alat-alat mengajarnya yang kita anggap dulu sebagai salah satu alat untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan dan salah satu bagian kurikulum dalam pengertiannya yang luas dan menyeluruh.
Pokok-pokok dasar yang masuk dalam metode mengajar dalam pendidikan Islam dan yang akan kita uraikan dengan ringkas adalah sebagai berikut:
1. Konsep Metode Mengajar Dan Pentingnya Dalam Pendidikan Islam 
2. Metode Mengajar Umum Yang Terpenting Dalam Pendidikan Islam
a. Metode Pengambilan Kesimpulan atau Induktif
b. Metode Perbandingan (Qiasiah)
c. Metode Kuliah
d. Metode Dialog dan Perbincangan
e. Metode Lingkaran (Halaqoh), Riwayat, Mendengar dan Membaca, Dikte dan Hafalan, Pemahaman dan Lawatan
A. Konsep Metode Mengajar Dan Pentingnya Dalam Pendidikan Islam 
 Dalam buku falsafah pendidikan Islam, ada lima definisi tentang metode mengajar, diantaranya ialah:
1. Prof. Mohd. Athiyah Al-Abrasyi mendifinisikan metode mengajar adalah jalan yang kita ikuti unutk memberi paham kepada murid-mirid segala macam pelajaran, dalam segala mata pelajaran. Metode mengajar adalah rencana yang kita buat untuk diri kita sebelum kita memsuki kelas, dan kita terapkan dalam kelas itu setelah kita memasukinya. 
2. Prof. Mohd. Abd. Rahim Gunaimah, mendefinisikan metode mengajar adalah sebagai cara-cara yang praktis yang menjalankan tujuan-tujuan dan maksud-maksud pengajaran.
3. Prof. Ali Al-Jumbalati dan Abu Al Fath Attawanisi mendefinisikan metode mengajar adalah sebagai cara-cara yang diikuti oleh guru untuk menyampaikan maklumat ke otak murid-murid. 
4. Prof. Soleh Abd Aziz dan DR. Abd Aziz dan Abd Majid, meminjam dua makna metode mengajar dari pendidikan amerika Kilpatrick, yaitu makna yang sempit yang bertujuan menyampaikan maklumat, dan makna yang luas dan menyeluruh, yaitu memperoleh maklumat-maklumat ditambah dengan pandangan kebiasaan berfikir dan lain-lain. Dan pandangan-pandangan ini seperti cinta pada ilmu, guru dan sekolah, menghormati dan mencintai orang lain, dan bergantung pada diri sendiri. 
5. Edgar Bruce Wesley, mendefinisikan metode dalam bidang pendidikan adalah sebagai rentetan kegiatan terarah bagi guru yang menyebabkan timbulnya proses belajar pada murid-murid, atau proses yang pelaksanakannya yang sempurna yang sempurna menghsilkan proses belajar, atau jalan yang dengannya mengajan itu menjadiberkesan.
Dari beberapa definisi ini, dapat disimpulkan mengenai definisi metode mengajar secara general. Metode mengajar adalah segala segi kegiatan yang terarah yang dikerjakan oleh guru dalam rangka kemestian-kemestian mata pelajaran yang diajarkannya, ciri-ciri perkembangan muridnya, dan suasana alam sekitarnya dan tujuan menolong murid-muridnya untuk mencapai proses belajar yang diinginkan dan perubahan yang dikehendaki pada tingkah laku mereka. 
Difinisi ini adalah merupakan sebuah konsep yang dijelaskan dalam buku falsafah pendidikan Islam, yang seharusnya metode mengajaran semacam ini sudah jelas tidak sesuai dengan keadaan-keadaan pendidikan Islam yang terjadi saat ini. Kalau metode mengajar bermakna segala segi kegiatan yang terarah yang dikerjakan oleh guru dalam rangka kemestian mata pelajaran yang diajarkannya. Bisa jadi segala sesuatu yang dikerjakan oleh guru dimungkinkan akan dikerjakan oleh murid-muridnya juga, pemahaman seperti inilah hanya melihat dari segi makna guru secara bahasa saja. Kalau dulu orang mendefinisikan bahwa guru adalah digugu dan tiru maka sekarang guru tidak lagi bermakna seperti itu. Karena kalau kita mengacu kepada konsep guru yang seperti itu, justru guru tidak pernah memberi kebebesan atau keterampilan dan kreatifitas terhadap murid-muridnya. Dikarenakan murid-murid tersebut sudah terkonstruk dengan konsep bahwa segala segi kegiatan yang dikerjakan oleh guru adalah benar dan baik. Padahal sudah jelas pendapat-pendapat moderen yang telah mewarnai dalam dunia pendidikan islam mengenai metode mengajar yang baik dan yang seharusnya diterapkan saat ini. Ia mengatakan dalam metode pengajaran bahwa proses pendidikan bukanlah proses pengisian dari pihak guru dan bahwa peranan positif itu tidak terbatas pada guru sendiri saja, tetapi ia merupakan proses perubahan pada tingkah laku bahwa pelajar memegang peranan yang sangat besar. Jadi disini sudah jelas bahwa dari difinisi inilah memang murid harus benar-benar diberi kebebasan oleh seorang guru. Oleh karena itu, dalam pendidikan islam guru hendaknya menempuh metode pendidikan yang jitu sesuai dengan apa yang diajarkan dalam Al Qur’anul karim dan as Sunnah Nabawiyah, karena para guru ikut berpartisipasi dalam menyiapkan generasi muslim pada masa yang akan datang, tapi bukan berarti guru tidak memberi kebebasan dalam mengembangkan kreativitas muridnya, karena guru disini adalah hanya sebagai fasilitator saja. Oleh karena itu seorang guru harus secara rasional dalam menentukan metode mengajar, karena rasionalisme adalah sebagai dasar pendidikan.
Oleh sebab pentingnya pendidikan yang dipunya oleh metode mengajar dalam ilmu pendidikan, dan dalam pekerjaan mengajar. Maka para pendidik dalam berbagai zaman harus menaruh perhatian besar untuk mengangkat dan memperbaiki metode mengajar dan alat-alatnya melalui penentuan syarat-syarat dan prinsip-prinsip yang harus dipelihara pada metode ini dan menjalankan percobaan-percobaan dan penyelidikan-penyelidikan yang bertujuan untuk memperbaikinya.

B. Metode Mengajar Umum Yang Terpenting Dalam Pendidikan Islam
A. Metode Pengambilan Kesimpulan atau Induktif
 Metode ini bertujuan untuk membimbing pelajaran untuk mengetahui fakta-fakta melalui jalan kesimpulan atau induksi. 
 Kalau guru sedang mengajar tentang pelaku (fa’il), misalnya, kepada murid-murinya dan ia ingin menggunakan metode ini pada pengajarannya maka sesudah pendahuluan harus ia mengemukakan kepada murid-muridnya banyak contoh tentang kalimat verbal (jumlah fi’liah) yang asasnya terjadi atas kata kerja dan pelaku (fa’il) dan ia membandingkan kepada mereka contoh-contoh ini untuk menentukan sifat-sifat bersama antaranya.
 Metode yang ini kalau digunakan pada era sekarang jelas kurang relevan, karena metode seperti ini menyulitkan anak didik dalam memahami suatu pelajaran.
B. Metode Perbandingan (Qiasiah)
 Metode ini, berbeda dengan metode induktif dimana perpindahan metode ini dari yang umum kepada yang khusus, dari keseluruhan kepada bagian-bagian kecil dimana disebutkan umum dahulu kemudian diberi missal-misal dan princian-perincian yang menjelaskannya.
C. Metode Kuliah
 Metode kuliyah adalah metode yang menyatakan bahwa mengajar menyiapkan pelajaran dan kuliahnya, mencatatkan perkara-perkara penting yang ingin dibincangkannya.

D. Metode Dialog dan Perbincangan
 Metode dialog adalah yang berdasarkan pada dialog perbincangan melalui Tanya jawab untuk sampai kepada fakta yang tidak dapat diragukan, dikeritik dan dibantah lagi.
E. Metode Lingkaran (Halaqoh), Riwayat, Mendengar dan Membaca, Dikte dan Hafalan, Pemahaman dan Lawatan
1. Lingkaran (halaqoh)
 Pada metode ini, yang terus menerus dipergunakan pada yayasan pendidikan dalam dunia islam semenjak bermulanya dakwah islamiah, pelajaran-pelajaran mengelilingi gurunya bulatan untuk mendengarkan sarahannya. 
2. Riwayat
 Metode ini dianggap salah satu mitode dasar yang digunakan oleh pendidikan islam. 
 Hadist, bahasa dan sastra arab termasuk ilmu-ilmu islam dan segi pemikiran islam yang paling banyak menggunakan riwayat dan bergantung padanya.
3. Mendengar dan membaca
 Meriwayatkan ilmu pada abad pertama dakwa islamiah tergantung penuh pada pendengaran saja.
 Sebab tulisan dan pembacaan belum tersebar luas dalam masyarakat islam pada waktu itu, dan juga oleh karena ahli pada abad ini tidak suka menulis apa yang diriwayatkannya.
4. Dikte dan hafalan
 Metode ini merupakan alat yang digunakan dalam mengajarkan dan meriwayatkan karya ilmiah yang biasanya bukan karya guru sendiri.
 Diantara factor-faktor yang menbantu untuk menarik perhatian umat islam melihara dan menyebarkan sebagai salah satu jalan pada abad pertama hijriah.
5. Metode Imla’ 
 Metode imla’ adalah metode yang berikut sesudah metode mendengar. Tersiarnya metode imla’ ini disebabkan oleh tersiarnya kertas dan tulisan.
6. Pemahaman dan lawatan
Sekalipun ulama-ulama islam menaruh perhatian pada hafalan dan ingatan mereka tidaklah melalaikan sama sekali pemeliharaan terhadap pemikiran yang dihafalkan dan menjelaskan, menganalisa dan memahaminya sebenar-benarnya. 
7. Metode pemahaman 
 Sekalipun ulama’-ulama’ islam menaruh perhatian pada hafalan dan ingatan mereka tidaklah melalaikan sama sekali pemeliharaan terhadap pemikiran yang dihafalkan dan menjelasakan, menganalisa dan memahaminya sebenar-benarnya. 
8. Metode lawatan untuk menuntut ilmu 
 Pendidik-pendidik islam menaruh perhatian besar terhadap lawatan dan perkunjungan ilmiah dan dianggapnya sebagai metode yang paling bermanfaat didalam menuntut ilmu memperoleh pengetahuan, meriwayatkan hadist, sejarah, syair-syair keislaman.
 Dari beberapa metode yang dijelaskan dalam falsafah pendidikan islam ini sudah tidak seharusnya diterapkan pada saat ini, karena metode-metode ini akan menjenuhkan anak didik atau murid-muridnya. Metode-metode yang seharusnya diterapkan saat ini ialah metode yang sangat simple sekali akan tetapi dapat menghasilkan dan mencetak peserta didik (murid) yang lebih baik. Kalau kita melihat, metode-metode yang diterapkan saat ini khususnya dalam dunia pendidikan islam, hanya ada tiga metode yang sangat berperan dalam mengembangkan keilmuan dan kreatifitas dari peserta didik. 
 Ada tiga metode yang umum diterapkan dalam dunia pendidikan saat ini, diantaranya adalah: 
a. Metode Ceramah
Metode ini, adalah metode yang biasa dilakukan oleh seorang guru untuk memberikan pemahaman-pemahaman sebelum guru melangkah pada metode-metode selanjudnya. Jadi, dari sini guru diharapkan mampu dan mempunyai pengetahuan yang luas, keterampilan yang baik dan pengalaman yang banyak. Dari inilah guru dapat menerapkan metode ceramah dengan lebih baik, dan mudah untuk memberikan metode pembelajaran yang gampang ditangkap oleh peserta didik. 
b. Metode Diskusi 
Metode ini, yang berperan aktif adalah para murid-muritnya. Dalam metode ini guru sangat jelas sekali sebagai fasilitator, karena dalam metode ini diharapkan murid bias lebiih aktif dari pada gurunya. Dan jika dibutuhkan guru hanya sebagai penengah dan meluruskan pendapat-pendapat yang tidak sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkannya. 
c. Metode Praktek 
Metode ini, ialah pengaplikasian dari metode-metode sebelumnya. misalnya, kita contohkan pada kurikulum MI pada mata pelajaran membaca Alquran (Iqra) dan shalat. Pembelajaran ini tidak akan pernah berhasil jika tidak diperaktekkan oleh murid tersebut. Karena itu, guru mengajar dan melatih murid yang tidak bisa membaca Al-Qur’an dan sholat. Dengan demikian, kurikulum yang disajikan akan mampu mencapai tujuannya. Intinya guru hendaknya memberikan contoh yang baik sesuai tuntunan Alquran dan Hadist dalam kehidupan sehari-hari. Dengan harapan, peserta didik nantinya memiliki kecerdasan intelektual yang terbukti dengan prestasi akademik nasional dan internasional, emosional dan spiritual.
 Metode inilah yang sekarang umum diterapkan dalam dunia pendidikan, karena metode ini sebenarnya mencakup dari semua metode-metode yang telah dijelaskan didalam falsafah pendidikan islam. Disamping itu, metode ini sangat simple sekali, dan murid tidak akan merasa terbebani dengan beberapa metode yang seperti dijelaskan didalam falsafah pendidikan islam.
Daftar Pustaka
Omar Muhammad Al-Toumy Al-Syaibany, Prof. Dr., Falsafah Pendidikan Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1975.

Ahmad Tafsir, Prof, Dr, Filasafat Pendidikan Islam, Cet. I, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2006.
Prasetya, Drs., Filsafat Pendidikan, Cet. II, Pustaka Setia, Bandung, 2000
Ali Saifullah H.A., Drs., Antara Filsafat dan Pendidikan, Usaha Nasional, Surabaya, 1983.
Abuddin Nata, M.A., Filsafat Pendidikan Islam, Cet. I, Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 1997 
Read more
 
© Sepenggal Taqdir | Design by Blog template in collaboration with Concert Tickets, and Menopause symptoms
Powered by Blogger