Selamat Datang di http://ghanie-np.blogspot.com Dan Selamat Menikmati Sepenggal Taqdir Dari Anak Kepulauan Ini
Mohon ma'af sebelumnya, sudah lama tidak saya Update, karena masih banyak kesibukan yang harus saya selesaikan.
Sekedar Kata Pengantar :
Kureguk kopi sambil menyelesaikan satu puisi. Kamu di sisiku, menjadi kitab refrensiku. Kubuka halaman hatimu, tak kutemukan kata pengganti yang lebih indah untuk kutulis. Selamat Menikmati...

IBU

Ibu,,,,
berjuta dimensi membatasi jarakku,

tapi nyanyian malammu masih kudengar,

bersama angin musim gugur,

simphony warna daun mengingatkanku,
akan hangatnya kasihmu.

Tutur katamu yang sederhana nan lugas,

lebih indah dari sonata-sonata Shakespear,

mengajariku alif, ba', ta' kehidupan.


Langkah kakimu yang mulai keriput,
lebih gemuruh dari avalanche,
menerjang kerasnya hidup yang kerontang.

"Jegeh bedenah deri bereng se sala,

pateppa’ tengka lakona de’ ka sakabbina bengsa,”


Nyanyianmu Ibu,

masih kudengar dalam bahasa maduramu yang halus,

kebenaran memang sangatlah sederhana Ibu,

tapi manusia-lah yang sengaja membungkusnya.


"Apoasa’ah petotorah be’na,

apoasa’ah pangaulatna be’na,

apoasa’ah pa lomampa’enna be’na,
apoasa’ah tanangah be’na,

apoasa’ah sakabbina jesadda be’na,

deri bereng se ta’ ekenging agi kalaben pangerana”.


Ibu,,,
aku sudah mencobanya semua,

puasa jiwa dari segala sukma,
walau tak sehebat dirimu yang haru.


Ibu,,,
ajarilah anakmu,

bagaimana mencintai mereka,

seperti aku mencintai nafasku.


Adzan bersama alam,

tahajud bersama kehidupan.


“Wa’ budullaha wala tusyrikuu bihii syai’aa,

Wa bil waa lidaini ihsanaa”.


Ibu,,,

sungguh qiraatmu membelai sunyi,

sepi bertarung meraih utopia malam pelangi,

bertemu wajah-Nya yang selalu berseri,
doakanla anakmu Ibu.


Memang akuselalu lupa diri mengejar kebahagiaan,

meninggalkanmu dalam kekosongan,
memoles wajah dengan kepalsuan,

membiarkan ibu meronta dalam kebisuan.


Aku terlalu terlena memburu kesenangan,

sehingga Ibu tak dengar lagi aku menangis manja,

sambil memandangiku dengan penuh cinta,
seperti dulu,

ketika aku mengeringkan air mata dalam kehangatan dadaku.


Ibu,,,
aku pulang dengan segenggam kenestapa’an,

mengemban kepiluan rindu,

yang aku pendam sejak kelam.



Anakmu, 04 Februari 2011


NB : Buat kaum perempuan yang kepada-nya saya hormat...!!!

comment 0 komentar:

Posting Komentar

 
© Sepenggal Taqdir | Design by Blog template in collaboration with Concert Tickets, and Menopause symptoms
Powered by Blogger