Selamat Datang di http://ghanie-np.blogspot.com Dan Selamat Menikmati Sepenggal Taqdir Dari Anak Kepulauan Ini
Mohon ma'af sebelumnya, sudah lama tidak saya Update, karena masih banyak kesibukan yang harus saya selesaikan.
Sekedar Kata Pengantar :
Kureguk kopi sambil menyelesaikan satu puisi. Kamu di sisiku, menjadi kitab refrensiku. Kubuka halaman hatimu, tak kutemukan kata pengganti yang lebih indah untuk kutulis. Selamat Menikmati...

Pengembangan Ilmu Agama Islam Dalam Perspektif Filsafat Ilmu

 Ajaran Agama Islam Dalam Memandang Perkembangan Ilmu Pengetahuan

Mencari Arti Agama Dan Islam

Agama dalam arti teknis yang dalam bahasa inggris disebut religion, Belanda (religie), arab (ad-din). Indonesia yakni agama itu sendiri. Para filosof, sosiolog, psikolog, teolog, dan yang lainnya telah merumuskan defiisi tentang agama menurut caranya masing-masing. Walaupun betapa mustahul memberikan sebuah definisi yang sempurna tentang agama, namun ada bentuk yang mempunyai cirri khas daripada aktifitas keagamaan.

Adapun untuk mendefinisikan pengertian Islam itu sendiri tampaknya dikalangan para pakar agak mengalami kesulitan, seperti halnya dalam mendefinisikan agama. Banyak diantara para ahli agama Islam mendefinisikan Islam itu, namun nampaknya hanya terbatas dalam kontek penndekatan disiplin cabang ilmu yang digeluti masing-masing. Untuk itu memahami Islam sebagai agama, barangkali akan lebih mengena jika melihat para pemikir kontemporer ini, yang menganggap islam itu sebagai agama rahmatan lil ‘alamin.

Tipologi Pemikiran Islam

            Mengamati perkembangan Islam kontemporer, setidaknya ada lima trend besar yang dominant. Pertama, Fundamentalis, kelompok pemikiran sepenuhnya percaya kepada doktrin Islam sebagai satu-satunya alternative bagi kebagkitan umat manusia.

            Para pemikir yang mempunyai kecenderungan tesebut, Sayyid Quthb, Muhammad Quthb, Al-Maududi, Sayyid Hawa, Awar Jundi, Zainuddin Sardar, dan tokoh seperti Abu Bakar Ba’asyir, Jakfar Umar Thalib, Habib Habsy, di tanah air. Tokoh-tokoh gerakan Islam masuk dalam kelompok ini.

            Kedua, Tradisionalistik (salaf), kelompok pemikir yang berusaha untuk berpegang teguh pada tradisi-tradisi yang telah mapan. Bagi kelompok-kelompok ini, seluruh persoalan umat telah dibicarakan secara tuntas oleh para ulama pendahulu, sehingga tugas sekarang kita hanya menyatakan kembali apa yang pernah dikerjakan mereka, atau paling banter menganalogkan pada pendapat-pendapatnya. Namun demikian, berbeda dengan kaum fundamental yang sama sekali menolak moddernitas dan membatasi al-khulafa’urrasyidin yang empat.

            Pemikiran tokoh-tokoh seperti asy-Syafi’i dan al-Ghazali yang hidup abad pertengahan dianggap telah menyelasaikan persoalan umat Islam sampai akhir zaman. Sedemikian, sehingga pada gilirannya, orang yang mendalami dan mengikuti tradisi ikut mendapat berkah dianggap sebagai tokoh yang patut dijadikan panutan dan dianggap mampu untuk menyelesaikan segala persoalan duniawi maupun ukhrawi.

            Dengan kodisi dan prilaku seperti itu, seperti ditulis Hasan Hanafi, kecenderungan tradisionalisme pada saatnya melahirkan konsekuensi-konsekuensi tertententu yakni:

  1. Eksklusifisme, karena adanya penokohan, bahkan pensakralan individu. Sikap tradisionalistik menggiring terbentuknya sikap-sikap eksklusif yang hanya menghargai dan mengakui kebenaran kelompoknya sendiri dan menolak keberadaan pihak lain.
  2. Subyektifisme, sebagai akibat lanjut dari eksklusifisme. Orang-orang kelompok ini menjadi kehilangan sikap obyektif dalam menilai sebuah persoalan.
  3. Detreminisme, sebagai akibat lanjut dari dua konsekuesi diatas, dimana masyarakat telah tersubordinasi dan terkurung dalam satu warna, mereka terbiasa dalam menerima “sabda” sang panutan dan menganggapnya sebagai sebuah keniscayaan tanpa ada keinginan untuk mengubah apalagi menolak.

Ketiga, Reformistik yaitu kelompok pemikiran yang berusaha mengkonstruksi ulang warisan-warisan budaya islam dengan cara memberi tafsiran-tafsiran baru.

Menurut kelompok ini umat Islam sesungguhnya telah memiliki budaya dan tradisi yang bagus dan mapan. Namun trdisi tersebut harus dibangun kembali secara baru dengan kerangka moderen dan persyaratan rasional agar bisa tetap survive dan bisa diterima dalam kehidupan moderen. Karena itu kelompok ini berbeda dengn kalangan tradisional yang tetap menjaga tradisi masa lalu.

Keempat, Postradisonalistik, yaitu kelompok pemikiran yang berusaha mendekonstruksi warian-warisan budaya Islam berdasarkan standar-standar modernitas.

Para pemikir postradisionalistik tersebut, umumnya adalah terdiri dari pemikir muslim yang banyak di pengaruhi gerakan postrukturalis perancis dan beberapa tokoh postmodernisme lainnya, seperti De Saussure (linguistik), Levi Strauss (antropologi), Lacan (psikologo), Barthes (semiologi), Foucould (epistimologi), Drrida (grammatologi), dan Gadamer (hermeneutika).

Kelima, Modernistic, yaitu kelompok pemikiran yang hanya mengakui sifat rasional ilmiah dan menolak cara pandang agama serta kecenderungan mistis yang tidak berdasarkan nalar praktis.

Menurt kelompok ini, agama dan tradisi masa lalu sudah tidak relevan dengan tuntutan zaman sehingga ia harus dibuang dan ditinggalkan. Karakter gerakan utamanya adalah berpikir kritis dan soal-soal kemasyarakatan dan keagamaan, penolakan terhadap sikap jumud (kebekuan berpikir) dan taqlid.

Yang termasuk dalam kelompok ini adalah para tokoh muslim yang banyak mengkaji dan dipengaruhi pemikiran marxisme (aspek intelektualitasnya dan bukan ideologinya), seperti Kassim Ahmad, Thayyib Tayzini, Abdullah Arwi, Faud Zakariya, Zaki Nadjib Mahmud dan Quanstantine Ziyaq.

Episimologi Dan Paradikma Keterpaduan Iptek Dengan Islam Dalam Persepektif Al-Qur’an Dan Al-Sunah

            Sejarah manusia mulai dapat mencatat bahwa diparuh pertama millennium kedua kaum muslimin mampu menguasai dunia. Abad inilah yang mereka sebut dengan The Middle Ages, yang mempresentasikan masa-masa keterbelakangan dan kegelapan mereka. Dalam paruh kedua dalam millennium kedua, kendali dunia beralih kepihak Barat. Mereka mulai bangkit dari kegelapan cahaya, dari kemandegkan menuju pembebasan, dan dari puritanisme menuju progesifitas. Mereka belajar di universitas islam kemudian menyalin buku-buku karya ilmuwan muslim.

            Sunnatullah (hukum alam) dan logika histories menyatakan bahwa siklus peradaban pada masa datang akan berada di tangan kaum muslimin. Kesiapan kaum muslimin menhadapi tantangan, baik internal maupun eksternal, dalam skala lokal maupun global, harus diwujudkan dalam upaya mengatasi stagnasi dan keterbelakangan yang disebabkan oleh kesalahannya dalam memahami agama dan aplikasinya, sehingga kembali diharapkan obor peradaban dapat berpindah ke tangan kaum Muslimin.

Faktor-Faktor Penyebab Dikotomisasi Pendidikan

            Manusia dilahirkan dalam keadaan kosong dari ilmu pengetahuan. Tetapi Allah memberikan fitrah mencintai pengetahuan dan menyingkapkan apa yang tidak diketahuinya, memberinya alat (washilah) yang memungkinkannya mampu mengenal dirinya dan segala wujud disekitarnya.

            Seorang muslim tidak dibenarkan hidup dalam keadaan putus hubungan dengan ilmu. Manusia tidak seharusnya pernah berpikir mengani dirinya, dan Sang Penciptanya. Dilihat dari sudut pandang cara memulai aktifitas pemikiran tersebut maka dikenal tiga kubu pemikiran agama yaitu: pertama, Kubu Agama, yang memulainya dengan membuka tabir burhan qur'ani dan sunni. Kedua, Kubu Ummu, yang memulainya dengan berpegangan pada burhan insani dan islami. Ketiga, Kubu Islami, yang berpikir secara terpadu yaitu melalui pendekatan burhan qur'ani, sunni dan kauni secara simultan dan utuh. Pengaktegorian tersbut memunculkan dikotomi agama umum, yaitu pembagian atau pengelompokan diantara dua hal yang berlawanan atau saling melawan.

            Kenyataan yang terus berkangsung hingga sekarang ialah bahwa kaum kubu agama masih didominasi cara befikir normative, abstrak dan non empiris sementara kubu umum lebih cenderung berpikir positif, konkret dan empiris. Sebagai konsekuensi dari system budayadan pendidikan iptek yang dikotomis yang memisahkan kubu langit (fskultas-fakultas ilmu agama) dengan kubu bumi (fakultas-fakultas ilmu umum).

Rekonstruksi Paradigma Keterpaduan Iptek dan Islam

            Ilmu yang diseru dan dianjurkan oleh islam merupaka ilmu yang ditunjang oleh argumentasi. Karena itu para ulama tidak menganggap taqlid sebagai ilmu, sebab taqlid adalah mengikuti pendapat orang lain tanpa argumrntasi. Hal ini jelas dilarang oleh Islam.

            Menurut Islam ruang lingkup ilmu ada tiga yaitu aspek metafisika, aspek humaniora, dan aspek material. Ajaran al-Qur'an dan as-Sunah berkenaan dengan aktiftas sebgai berikut: pembentukan penalaran ilmiah, penguasaan bahas aasing, pemanfaatan metode statistic, manajemen dan perencanaan, pengakuan logika eksperimental dalam urusan dunia, pertimbangan pendapat pakar dan ilmuwan, pengambilan segala yang bermanfaat.

Hubungna Agama Dengan Ilmu Pengetahuan Sosial.

            Dunia saat ini telah memasuki era globalisi dengan dampak positif dan negatifnya. Dampak negative misalnya terjadi dislokasi, dehumanisasi, sekuralisasi, dsb. Dampak positifnya terbukanya berbagai kemudahan dan kenyamanan baik dalam lingkungan ekonomi (ekonosfer), informasi (infosfer), teknologi (teknosfer), social (sisosfer), dan psikologi (psikososfer).

            Namun demikian, ilmu pengetahuan social yang dinilai sudah kewalahan dalam memecahkan maslah social yang timbul di era globalisasi. Hal ini disebabkan karena dasar dan prinsip yang dijadikan landasan dalam ilmu pengtahuan social berasal dari filsafat barat yang betumpu pada logika rasional dan cara berfikir empiris.

            Upaya mengatas ikebutuhan dari ilmu pengetahuan social, agama diharap dapat memberikan pengarahan dan perspektif baru, sehingga kehdiran agama terasa manfaatnya oleh penganut agam.

Pandanag Islam Tentang Ilmu Sosial

            Islam lebih banyak memperhatikan aspek kehidupan ritual. Islam adalah agam yang menjadikan seluruh bumi sebagai masjid tempat mengabdi kepada Allah. Umat manusia telah berhasil mengkoordinasikan ekonomi, mentat struktur politik, serta membangun peradapaban yang maju untuk dirinya sendiri,tetapi pada saat yang sama kita juga melihat bahwa umat manusia telah menjadi tawanan dari hasil ciptaannya sendiri.

            Dalam keadaan demikian, nampaknya sudah mendesak  untuk memiliki ilmu pngetahuan social yang mampu membebaskan manusia dari berbagai problema tersebut. Ilmu pengetahuan sosial yang dimaksud adalah ilmu pengetahuan yang digali dari nilai-nilai agama. Kuntowijoyo menyebutnya sebagai ilmu sosial porifetik.

Ilmu Sosial Ynag Bernuansa Islam

            Menurut Kuntowijoyo kita butuh ilmu sosial profetik yaitu ilmu sosial yang tidak hanya menjelaskan dan mengubah fenomena sosial, tetapi juga memberi petunjuk kearah mana perubahan itu dilakukan. Yaitu perubahan yang didasarkan pada tiga hal yaitu, cita-cita kemanusiaan, liberasi, dan transendensi.

            Nilai-nilai kemanusiaan, liberalisasi dan transendensi dijelaskan secara singkat sebagai berikut: bahwa tujuan humanisasi itu adalah memanusiakan manusia dari proses dehumanisasi. Liberalisasi tujuannya adalah pembebasan manusia dari kungkungan teknoligi dan pemerasan kehidupan. Tujuan dari transendesi adalah menumbuhkan dimensi ttransendental dalam kebudayaan.

            Dengan ilmu sosial profetik ini, kita ingin melakukan reorentasi terhadap made of thought dan made of inquirity. Yaitu suatu pandangan bahwa sumber ilmu bukannya berasal dari rasio dan empiri sebagaimana yang dianut dalam masyarakat barat, tetapi juga dari wahyu.

            Dengan ilmu social yang demikian, maka umat Islam akan dapat meluruskan gerak langkah perkembangna ilmu pengetahuan yang terjadi saat ini dan juga dapat meredam berbagai keruduhan sosial dan tindakan kriminal lainnya yang saat ini banyak mewarnai kehidupan.

Pandangan Kaum Filosof Terhadap Islam

Memahami Islam Secara Komperhensif.

Untuk memahami Islam memang tidak dapat hanya dengan mengandalkan satu pendekatan. Memahami dari sudut tafsir al-Qur'an saja, tanpa mempertimbangkan hal-hal yang lain, maka keislamannya dianggap parsial. Demikian juga dalam mengamalkan Islam.

            Untuk memahami Islam secara benar dapat ditempuh dengan cara: pertama, Islam harus dipelajari dari sumber yang asli yaitu al-Qur'an dan as-Sunah. Kedua, Islam harus dipelajari secara integral sebagai suatu kesatuan yang bulat. Ketiga, Islam perlu dipelajari dari kepustakaan yang ditulis oleh ulama besar, kaum zu'ama dan sarjana-sarjana Islam. Keempat, memahami Islam tidak boleh hanya dihampiri dari satu pendekatan seperti memandang Islam dari segi tasawuf saja yang akan mengakibatkan bahwa konsekuensi diluar itu kurang dianggap penting.

            Dalam pendekatan pemahaman Islam menurut A. Mukti Ali, pertama yaitu ketahui Allah yang menjadi pusat penyambahan, kedua, pelajari al-Qur'an, ketiga, pelajari pribadi Nabi Muhammad, keempat, teliti situasi dimana Nabi Muhammad bangkit, kelima, pelajari orang yang terkemuka seperti sahabat Nabi.

Pemikir Islam Tidak Pernah Berhenti.

            Pemikiran Islam sebenarnya tidak berhenti setelah al-Ghazali mengkritik filsafat. Dari abad kea bad pemikiran pendidikan Islam terus berkembang bahkan hingga saat ini. Pemikir atau filusuf besar Muslim satu abad setelah al-Ghazali seperti Syihab ad-Din Suhrawardi al-Muqtul (Syekh al-Isyraq), Nashir ad-Din Thusi, sorang astronom pendiri observatorium di Marghah. Thusi mencoba menghidupkan kembali filsafat peripatetic avicenian.

            Pada abad 14 sampai 16 pemikir handal filsafat seperti al-'Amuli, Ibn Turkah dan Jalal ad-Dawani. Mulla Shadra telah medirikan mazhab tersendiri sebagai konsekuensi sinteisnya itu yang biasanya disebut teosofi transenden.

            Abad 18 sampai 19bermunculan filosof dari Iran seperti Ahmad al-Asha'ri da Mulla Hadi Sabzawari. Karya-karya itu sendiri sulit untuk kita akses, bisa karena masih berupa manuskrip atau tidak diedarkan secara intrnasional. Kita masih membutuhkan buku-buku pengantar yang bermutu tentang para pemikir musil pasca Ibn Rusyd.

            Kendala untuk memahami pemikir kontemporer Muslim ini sebagian bersifat linguistic karena ditulis dalam bahasa Persia. Tidak terlalu banyak filosof muslim yang menulis dengan bahas Arab. Kebanyakan kita harus menunggu sampai karya-karya tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris atau Indonesia untuk bisa memahami dengan baik. Keperluan kita kepada pemikiran mereka sangat besar karena sebagai pemikir masa kini tentu pemikiran mereka diarahkan pada bagaimana menjawab isu-isu dan tantangan  kontemporer yang muncul dari dunia moderen.

            Selain itu keperluan kita pada kepada pemikiran Islam kontemporer ini tentu saja terdorong oleh globalisasi, banyak sekali permasalahan moderen namun belum mendapat jawaban yang memuaskan dari kaum intelektual negri kita.

Pandangan Orentalis Terhadap Islam.

Pengertian Orentalis.

            Orentalisme adalah studi Islam yang dilakukan oleh orang-orang barat. Secara bahasa orentalisme berasal dari bahasa "orient" yang artinya timur. Secara etnologis berarti "bangsa-bangsa dari Timur" dan secara geografis bermakna hal-hal yang bersifat Timur yang sangat luas ruang lingkupnya.

            Kata "isme" berarti paham. Jadi orentalisme adalah suatu paham atau aliran yang menyelidiki hal-hal yang berkaitan bangasa-bangsa di Timur.

Latar Belakang Munculnya Orentalisme.

            Munculnya orentalisme antara lain akibat perang salib atau ketika dimulainya pergesekan politik dan agama antara Islam dan Kristen Barat. Factor lainnya dalah orentalisme muncul untuk kepentingan penjajahan Eropa terhdap Negara Arab, Islam di Timur, Afrika Utara dan Asia Tenggara.

Dogma Orentalisme.

Menurut Amin Rais, sekurang-kurangnya ada enam dogma orentalis yaitu, pertama, ada perbedaan mutlak dan perbedaan sistematik antara Barat yang rasional, maju, manusiawi, supervisor dengan Timur yang sesat, irrasional, terbelakang dan inferior. Kedua, abstraksi dan teorisasi tentang Timur lebih banyak didasarkan pada teks-teks klasik, dan hal ini lebih diutamakan daripada bukti-bukti nyata dari masyarakat Timur yang konkret dan riil. Ketiga, Timur dianggap lestari (tidak berubah-ubah), seragam, dan tidak sanggup mendefinisikan dirinya. Keempat, pada dasarnya Timur itu merupakan sesuatu yang perlu ditakuti, atau sesuatu yang perlu di taklukkan. Kelima, al-Qur'an bukanlah wahyu Ilahi, melainkan hanyalah buku karangan Nabi Muhammad. Keenam, keshahihan atau otentisitas semua hadis yang harus diragukan.

Tujuan Orentalis.

            Secara garis besar tujuan itu terbagi tiga yaitu: 1) untuk kepentingan penjajahan, 2) untuk kepentingan agama mereka, 3) untuk kepentingan ilmu pengetahuan.

            Untuk kepentingan penjajahan tergambar dari peneleitian yang tujuannya untuk melemahkan perlawanan umat Islam terhadap Belanda serta mengobrak-abik pertahan dan persatuan kaum Muslim dengan politik belah bambunya. Untuk kepentingan agama ingin menguasai Negara Muslim menjadi berlatar belakang Kristen. Untuk kepentingan ilmu pengetahuan, memang para orentalis berasal dari para intelek dan sarjana yang serius mengkaji masalah-masalah ketimuran. Untuk kepentingan ilmu pengetahuan, menghasilkan kesimpulan yang netral atau fair tentang Islam skalipun demi kenetralan ilmu mereka juga memberikan kesimpulan yang kurang fair tentang Islam.

Pro Kontra Terhadap Orentalisme.

            Diantara mereka kaum muslimin ada yang secara emosional menyatakan bahwa orang islam yang mempelajari tulisan karya orentalis termasuk antek zionis. Mereka berargumen bahwa orentalisme bersumber pada ide-ide kristenisasi yang menurut Islam sangat merusak dan bermaksud menyerang benteng pertahanan Islam dari dalam.

            Pandangan negative dari Ahmad Abdul Hamid Ghurab mengenai karakter orentalisme yaitu, pertama, orentalisme adalah suatu kajian yang mempunyai ikatan yang sangt eart dengan kolonialisme. Kedua, orentalisme merupakan gerakan yang mempunyai ikatan yang sangat kuat dengan kristenisasi. Ketiga, orentalisme merupaka kajian gabungn yang kuat antara kolonialisme dengna gerakan kristenisasi yang validitas ilmiah dan obyektifitasnya tidak dapat dipertanggung jawabkan secara mutlak. Keempat, orentalisme merupakan betuk kajian yang dianggap paling potensial dalam politik Barat untuk melawan Islam.

            Maryam Jamilah menyatakan bahwa orentalisme tidak sama sekali buruk. Mereka secara jujur mengkaji Islam. Tanpa mereka, banyak diantara pengetahuan berharga dalam buku Islam kuno yang akan hilang tanpa bekas atau tidak terjamah orang.

            Yang paling jelek diantara mereka adalah para orentalis yang mencoba memberikan saran kepada kita tentang bagaimana seharusnya kita memecahkan persoalan-persoalan dan apa yang kita lakukan kepada agama kita. Menurud Said, orentalisme bukan sekedar wacana akademis tetapi juga memiliki akar-akar politis, ekonomis dan bukan religius.

Semua kepentingan orentalisme ini secara implisit juga bersifat rasis. Dan ini tercermin dalam slogan missi pembudayaan terhadap dunia Timur "yang terbelakang" jika tidak "primitif".

Beberapa Contoh Orentalis.

H. A. R. Gibb

            Pendapat Gibb adalah ia menyatakan bahwa " Islam is indeed much more than a system of theology, it is complete civilization" (Islam sesunggunhnya lebih dari satu system teologi, ia dalah peradaban yang sempurna).

            Tetapi menurut Amin Rais, pada zaman moderen peran Islam dalam kehidupan social pasti akan sirna.

 

Wilfred Cantwell Smith

            Menurutnya perkembangan yang paling mengembirakan dalam dunia Islam sedang dialami oleh Islam di India dan turki. Islam sedang terbentu-bentur di samudra Hindunya India, dan sampai sekarang pun tetap jadi minoris yang keadaannya sangat memprihatinkan.

Montgomery Watt

            Analisanya cukup berbesar jiwa mau mengakui bahwa Islam bisa memiliki peranan besar di dunia ini dalam masa mendatang. Namun cepat dia menambahi bahwa Islam harus bersedia mengakui asal usulnya. Logika selanjutnya adalah umat Islam supaya mau melapaskan al-Qur'an kalau ingin memiliki peranan dimasa mendatang.

Gustave Von Grunebaum

            Ia menyatakan bahwa peradaban Islam tidak memiliki aspirasi-aspirasi primer seperti peradaban lainnya. Cirri peradaban Islam adalah anti kemanusiaan. Selain itu Islam tidak punya etika formatif dan kekurangan kesegran intelaktual. Kaum muslim tidak bisa maju, tidak ilmiah, tidak obyektif, tidak kreatif dan otoriter.

            Islam ditangan Von Grunebaum adalah Islam yang direduksi dan ditempeli sifat-sifat negative yang bisa dikhayalkan oleh Grunebaum.

Studi Islam Para Orentalis.

Studi yang dilakukan para orentalis berangkat dari paradikma brfikir bahwa Islam adalah agama yang bisa diteliti dari sudut mana saja dan dengan kebebasan sedemikian rupa. Studi yang mereka lakukan meliputi seluruh aspek ajaran Islam seperti sejarah, hukum, teologi, Qur'an, Hadist, tasawuf, bahasa, politik, kebudayaan dan pemikiran.

Sebagai contoh David Power pernah meneliti sedalam-dalamnya ayat-ayat al-Qur'an sehingga memunculkan kesimpulan al-Qur'an tidak sempurna antara lain karena tidak adil membagi waris antara laki-laki dan perempuan. Joseph Schatht pernah meneliti masalah Hadist sedemikina rupa sehingga pembaca tergiring ke kesimpulan bahwa hadist tidak layak menjadi sumber hukum.

Orentalis dan Islamis

            Pengkajian Islam oleh orang-orang bukan Islam terus dilakukan bahkan makin intensif. Pengkajian itu masih di dominasi oleh para pemikir barat. Hanya kalau dahulu para peneliti Islam disebut orentalis maka sekarang disebit Isalamisis.

            Memang terdapat perbedaan antara keduanya. Orentalis lebih kental nuansa politis dan tendensi kecurigaannya terhadap Islam. Islamisis lebih bersahabat. Kajiannya lebih bersifat ilmiah daripada penyelidikan demi kepentingan imperialisme.

            Esposito amat produktif menulis kajian Islam. Kajiannya berusaha mengungkapkan fakta seobyektif mungkin, nyaris tanpa komentar yang miring. Kekayaan data dan fakta menjadi cirri kajian mereka dalam mengkaji Islam.

Pengembangan Ilmu Agama Islam Dalam Perspektif Filsafat Ilmu

Memahami Islam Dengan Pendekatan Filsafat.

Ada beberpapa pendekatan ilmiah dalam memahami Islam. Dalam pendekatan ilmiah ini pembahasan lebih berorentasi pada aspek Islam aktual dan bukan Islam normative. Hukum Islam sebagai jalinan nilai-nilai Islam dapat diteliti secara filsafati. Manusia dengan menggunakan penalarannya secara positif mampu menggunakan akalnya sebagai karunia terbesar dari Allah SWT.

Pendekatan filsafat dalam memahami Islam bertolak dari asumsi bahwa Islam adalah agama berdimensi fisik dan metafisik. Metafisik dimaksudkan bahwa Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah. Titik sentral pengkajian filsafat dan memahami agama berangkat dari masalah ketuhanan.

Pendekatan filsafat dalam memahami kebenaran agama berusaha memikirkan dasar-dasar agama sehingga dapat memberi penjelasan yang dapat diterima akal kepada orang yang tidak percaya kepada wahyu dan hanya berpegang pada pendapat akal saja.

Antara perasaan keagamaan dan pemahaman tentang agama terdapat perbedaan. Perasaan keagamaan tidak berdasar logika, melainkan pada kepercayaan. Kepahaman pada logika memberikan kepuasan pada perasaan. Filsafat membahas masalah ketuhanan berdasarkan pada pencarian rasional tentang wujud Tuhan.

Argument induktif tentang eksistensi Tuhandapat ditari dari data-data misalnya bahwa alam ini ada dan keberadaannya telah menimbulkan makhluk-makhluk diatasnya dapat berinteraksi satu sama lain.

Masalah Tuhan dalam sebuah memang peran utama. Apabila konsep ketuhanan sebuah agama benar maka ajaran agama tersebut pasti benar. Sebaliknya bila konsep ketuhanan sebuah agama salah maka ajaran agama itu pasti salah.

Masalah kepercayaan dalam filsafat telah menimbulkan rasio sebagai pusat kepercayaan. Ada yang meyakini ide sebagai pusat segala dari yang ada. Ada juga yang menyatakan bahwa materi sebagai pusat kepercayaan. Dari sini muncul tiga aliran besar dalam filsafat, yaitu: rasionalisme, idealisme, dan materialisme.

Alasan bahwa kepercayaan merupaka unsur utama dalam agama menurut Pudjawijatna adalah karena kebenaran yang diyakini oleh kaum beragama diberitahukan oleh yang tak dapat berdusta (Tuhan sendiri) atau paling sedikit oleh seseorang yang menerima tugas memberitahukan kebenaran ini kepada umat manusia.

Epistimologi Dalam Perspektif Pemikiran Islam.

            Prinsip ajaran tauhid dalam Islam pada hakekatnya tidak hanya berkaitan dengn konsep teologi, tetapi juga meliputi konsep kosmologi, antropologi, aksiologi, dan termasuk didalamnya adalah epistimologi. Substnsi tunggal artinya tidak terbagi-bagi. Maka tauhid berarti proses kesatuan dari keanekaragaman yang ada dalam realitas kehidupan.

            Perspektif tahuid dalam islam dalam perkembangannya, mengalami penggerusan dan pergeseran. Pada pemerintahan Abasiyah, dibawah kepemimpinan Al-Makmun, penerjemahan buku-buku Yunani terutama filsafat, mengalami pertumbuhan yang mengesankan. Sehingga pemerintahan akan membayar terjemahan dengan harga mahal. Pemikiran islam kemudian yang ada hanyalah publikasi besar-besaran terhadap pemikiran Yunani, sehingga pemikiran Islam bergeser manjadi dualisme yang dikotomis.

            Akibatnya perspektif tuhid dalam pemikiran Islam hanya terbatas pada pandangan teologis dan lebih bermakna angka, sehingga Tuhan itu satu, bukan dua apalagi tiga. Dualisme dikotomis menjadi landasan setiap pemikiran Islam kemudian ilmupun dibagi menjadi dua. Ilmu agama dan ilmu non agama, ilmu duniawi dan ukhrawi, ilmu syariah dan non syariah, dan ilmu lahir dan ilmu batin.

            Fanatisme kesukuan yang sempit seringkali deperalat untuk mengukuhkan suatu kekuasaan, sehingga permusuhan, peperangan, dan pertumpahan darah tidak bisa dihindari lagi. Kaerna itu usaha untuk keluar dari krisis multi dimensi harus segera ditemukan. Jika tidak, maka krisis multi dimensi ini akan mengancam eksistensi umat Nabi Muhanmmad.

            Usaha untuk keluar dari krisis itu dilakukan dalam dua tahap. Pertama, perbaikan akidah dengan menegaskan adanya system ketuhanan tauhid demi menggantikan system ketuhanan  yang lama. Kedua, dilakukan sebuah penataan struktur masyarakat dengan menetapkan peraturan-peraturan dalam syariat agama.

Epistimologi Islam Integratif.

            Secara keagamaan, dalam Islam dikenal adanya tiga tahapan yaitu: Iman, Islam, dan Ikhsan. Dalam tahap Iman seseorang meyakini dan mempercayai sepenuhnya kehadiran Tuhan. Kemudian memasuki tahan Islam dan terakhir taham Ikhsan dalam aktualisasinya.

            Tahap Iman berkembang dalam ilmu ketuhanan dan ilmu yang menjelaskan hakikat sesuatu yang ada. Tahapan Islam (syariah) yang menerpakan prinsip ibadat dan muamalat, berkembang dalam ilmu social, kebudayaan dan Iptek yang terkait dengan manusia dan alam. Ikhsan berkembang dalam ilmu tasawuf untuk mengembangkan wawasan batin.

            Tahapan syariat dalam Islam mempunyai jangkauan yang luas, meliputi tata hubungan antara manusia dengan Tuhannya, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam.

            Epistimologi tauhid menjadi ilmu sosial, kebudayaan dalam Iptek (islam) tidak terpisahkan dengan filsafat (iman) dan tasawuf (ikhsan). Iptek dipakai untuk mengahdapi dan memecahkan persoalan teknis operasional yang sifatnya konkret dan berdimensi material. Filsafat sebagai basisnya, akan memberi wawasan dan nilai-nilai dalam operasionalisasi Iptek. Sedangkan tasawuf mengantarkan seseorang masuk dalam dimensi trasendental sebagai bagian dari perwujudan iman dan pengabdian diri kepada Tuhan.

            Karena itu ilmu pengetahuan Islam merupakan keastuan antara Filsafat (Iman), ilmu dan teknologi (Islam), dan tasawuf (Ihsan) sebagai manifestasi kesatuan religius untuk meneguhkan kemanusiaan dan menegakkan moralitas serta spriritualitas. Dualisme dikotomis pendidikan yang masih dikembangkan dalam masyarakat Islam, dengan memisahkan antara pendidikan umum dan pendidikan agama pada hakikatnya tidak senafas dengan hakikat ilmu pengetahuan Islam.

Al-Qur'an Dan Prinsip Epistimologi.

            Al-Qur'an sendiri menegaskan bahwa ada tiga daya ruhaniyah yang menjadi sarana untuk memahami suatu kebenaran, yaitu pikiran (al-fikr), akal (al-aql), dan hati nurani (al-qalb al-af'idah). Proses pemahaman dengan menggunakan sarana ruhaniah dengan kata fikr (pikiran) dipakai dalam konteks alam dan manusia dalam dimensi fisiknya. Sedangkan kata 'aql, dipakai dalam konteks yang lebih luas, dan berkaitan dengan hal-hal yang bersifat konkret, material, spiritual, maupun yang ghaib. Sebutan al-qalb dipakai dalam kaitannya dengan hal-hal yang bersifat ghaib dan spiritual saja.

            Ada tiga instrument yang dipakai dalam al-Qur'an untuk memahami suatu kebenaran yang berjenjang, yaitu: pertama, kebenaran yang berkaitan dengan hal-hal fisik dan material semata-mata sebuah kebenaran yang dapat dipahami dan di kuasai dengan mengguankan rasio. Kedua, kebenaran berdimensi ganda, yaitu material dan spiritual, yang dapat dipahami dengan menggunakan sebuah akal. Ketiga, kebenaran yang sepenuhnya berdimensi ghaib dan inmaterial yang dapat dimengerti dengan menggunakan qalb.

            Tiga hal yang menjadi obyek kajian ilmu, dan ketiganya merupakan kesatuan perwujudan dari tanda-tanda Tuhan yaitu: 1) ayat-ayat Tuhan yang terdapat dalam alam semesta, 2) ayat-ayat Tuhan yang terdapat dalam diri manusia dan sejarah, 3) ayat-ayat Tuhan yang tersurat dalam kitab suci, antara lain al-Qur'an tu sendiri.

            Wawasan al-Qur'an tentang ilmu pengetahuan dalam segala tingkatan pada hakikatnya bercorak tauhid, yaitu kesatuan pandangan yang menegaskan adanya kesatuan system ilmu pengetahuan sebagai hubungan dialektis antara daya-daya ruhaniah manusia dalam usaha memahami ayat-ayat Tuhan, baik yang terkandung dalam alam, manusia, sejarah, maupun dalam kitab suci.

            Wawasan tauhid dalam epistimologi Islam itu sudah barang tentu menuntut suatu metodologi yang memungkinkan wawasan tauhid itu dapat diaktualisasikan secara konkret dalam realitas kehidupan.

            Selajutnya integrasi metodologi tauhid ilmu yang didalamnya memuat suatu kesatuan aspek keislaman, baik yang normative, eskatologi, filosofis dan histories, serta pada semua tahap kislaman akan membangun wawasan tauhid ilmu yang aktual dan kontekstual.

            Iptek sebagian dari kebudayaan. Iptek dan kebudayaan dilihat sebagai produk semata-mata sebagai suatu yang kemudian berdiri sendiri dan terlepas dari manusia. Dampak dari itu semua adalah tidak adanya pengadilan terhadap iptek karena iptek dan kebudayaan secara sendirian tidak pernah dapat melakukan tindakan kriminal. Iptek sebagai proses maka sepenuhnya ia tergantung pada manusia dan melekat pada menusia, tidak pernah berdiri sendiri, dan selalu berada dalam kerangka system yang dibuat oleh penciptanya.

            Kehadiran ilmu pengetahuan islam pada hakikatnya menjadi rahmad bagi kehidupan manusia dan alam seisinya, ilmu pengetahuan islam pada prisipnya berpihak pada pembebasan dan pemberdayaan daya-daya ruhani manusia agar dapat memahami dan mengahyati mengerti dan menjiwai dalam segala jenjangnya menuju pengalaman iman, sebagai dasar untuk memperkuat perannya sebagai hamba Tuhan ('abd Allah) yang diangkat menjadi wakil-Nya (khlaifah Allah).

comment 0 komentar:

Poskan Komentar

 
© Sepenggal Taqdir | Design by Blog template in collaboration with Concert Tickets, and Menopause symptoms
Powered by Blogger